Review Film Alif Lam Mim (3)



Review Film Alif Lam Mim

Pecinta film laga cung hand, mana suaranya ...? Penasaran nggak seperti pa film ini, review film Alif Lam Mim siap untuk dibaca. Film ini menurut saya menjadi salah satu film yang harus ditonton oleh peminat film action. Ber-setting Jakarta 2036, saat kondisi Indonesia sudah aman terkendali. Indonesia di masa ini telah mengalami perubahan. Dari negara yang mayoritas beragama Islam menjadi negara dengan Islam minoritas. 

Apa yang terjadi?

Dikisahkan bahwa Indonesia di tahun 2026 mengalami revolusi besar-besaran, diawali dengan pertikaian antara dua kubu Islam bersorban merah dengan Islam bersorban hitam. Pertikaian antara umat Islam garis keras atau radikal ini membuat terjadinya revolusi besar-besaran. Aparat berhasil meringkus pelaku kejahatan.

Setelah itu disepakati bahwa aparat penegak hanya boleh menggunakan peluru karet dalam melumpuhkan para penjahat. Sehingga banyak diantara aparat penegak hukum maupun penjahat atau para santri dalam lingkungan pesantren yang mahir membela diri dengan ilmu silat.

Menurut saya kualitas film ini bagus, imajinasi tentang Jakarta di tahun 2036 digambarkan dengan apik. Gadget yang dipergunakan dalam film sangat mendukung. Begitu juga dengan pembagian porsi antara asmara, pertarungan, persahabatan serta agama sesuai.

Dalam film ini menceritakan tiga orang sahabat masa kecil yang dibesarkan bersama dalam pondok pesantren. Mereka digembleng bersama dalam belajar ilmu silat juga ilmu agama. Ketiganya tumbuh menjadi tiga sosok dengan idealisme yang tinggi.

Mereka adalah Alif, Herlam dan juga Mimbo. Film ini dirilis di tahun 2015, di bioskop, namun baru tiga minggu penayangan dengan jumlah penonton 124.150 ribu. Terjadi penjegalan, film ini diturunkan dari bioskop, meskipun masih banyak peminat.

Saya pun baru belakangan ini menonton film keren ini. Bagi saya pecinta film laga dan juga horor, ini adalah film indonesia yang berbobot.

Tiga bersahabat ini masing-masing menggapai cita-citanya. Alif sebagai aparat penegak hukum, ia ingin menghukum penjahat. Berkenaan dengan kisah masa lalunya sebelum ia hidup di pesantren, ayah dan ibunya meninggal ditembak oleh penjahat. Sedangkan Herlam berhasil menjadi jurnalis ternama di Libernesia, beberapa kali mendapatkan penghargaan dari tulisannya yang idealis, berani dan jujur dalam menyampaikan berita. Sedangkan Mimbo, memilih terus berada dalam pesantren menjadi seorang ustaz, menjadi pendakwah, memajukan Islam hingga kelak membawanya mati dalam keadaan khusnulkhatimah.

Ketiganya dipertemukan kembali, ketika terjadi pemboman di cafe tempat kekasih Alif bekerja. Wacana publik mengarah pemboman dilakukan oleh teroris yang berada dalam pondok pesantren Al-Ikhlas yang diasuh oleh Kyai Mukhlis, tempat Alif, Lam dan Mim dibesarkan.

Sehingga turun surat penangkapan Kyai Mukhlis yang dipimpin Alif dalam penjemputan sang Kyai. Disana Mim telah menghadang, adu silat terjadi disini. Suasana makin heroik ketika setting lokasi dibuat dalam keadaan hujan. Pertarungan dilerai oleh Kyai Mukhlis, dan langsung menanyakan perihal surat penangkapan dirinya.

Di sisi lain Lam merasa terpanggil untuk menyatukan dua sahabat yang bertikai. Unsur religi sangat mendalam namun kelihaian penulis skenario sehingga pemirsa tidak merasa dicekoki dengan dakwah. Namun syarat akan muatan dakwah.

Alif tergabung dalam pasukan elit Detasemen 38 : 80-83. Jika kita membuka Al-qur'an surah 38 (Shad) ayat 80-83, memiliki arti sebagai berikut :

Sumber : www.quran30.net

Empat ayat Al-qur'an tersebut merupakan percakapan antara Allah SWT dengan Iblis saat diusir keluar dari surga. Allah mengabulkan keinginan Iblis agar tetap hidup hingga kiamat untuk menyesatkan hamba-Nya, kecuali hamba-hamba-Nya yang mukhlis.

Indonesia tahun 2036 dalam film ini, diceritakan telah menganut faham liberal, yang mana sekelompok orang beragama dianggap tabu, agama hanya dianggap sebagai biang kerusuhan, sehingga kebebasan beragama sudah terkekang. Bahkan dalam komunitas orang-orang beragama diasingkan, dan dipandang sebelah mata. Tatapan tak bersahabat serta mulut memperolok.

Alif yang merasa kekasihnya terbunuh dalam pemboman, membuatnya memusuhi Mim. Namun Lam membawa cerita baru bahwa ia bertemu dengan Laras (kekasih Alif), Laras masih hidup. Alif yang beranggapan bahwa aparat penegak hukum seperti dirinya dalam posisi yang benar, kini mulai merasa tak percaya diri.

Hingga ketika istri Lam, menjadi korban dan anaknya hampir meninggal tertembak. Menguatkan dugaan Alif bahwa Kolonel Mason, atasan Alif merupakan dalang pemboman di cafe kala itu.

Tak lama Laras yang ternyata aslinya bernama Nayla, Kolonel Nayla, dan Alif dipertemukan dalam satu meja oleh Kolonel Mason. Dalam pertemuan itu ada sosok misterius yang dalam dialognya mengucapkan kalimat sebagai berikut.

"Pasti kamu berpendapat kami ini iblis Lif, membuat perang dan kekacauan membunuhi semua orang. Kami memang Iblis Lif, kehadiran kami ini diperlukan karena hal buruk itu perlu mencipta kesebetulan kebaikan, kamilah yang mengendalikan." 
Beberapa adegan membuat saya merasa tertantang dan penasaran hingga saya putar ulang. Bahkan beberapa percakapannya menarik untuk saya dengar ulang.

"Tidak Mim, aku tidak akan pergi dari sini, aku hanya akan pergi ketika aku dinyatakan bebas," penggalan percakapan Kyai Mukhlis dengan Mim.
"Jangan Mim, kita ini bukan pembunuh, Islam tidak mengajarkan kita menjadi pembunuh," ucap Kyai Mukhlis
Ending kisah ini tidak betul-betul selesai. Seolah ini adalah kisah Alif Lam Mim (3) jilid 1, penonton dibuat penasaran kisah lanjutannya. Aksi silatnya membuat saya ingin belajar silat juga, kali saja nanti hidup di zaman seperti itu. Biar seperti istri Lam yang jago silat atau tokoh wanita Laras, yang belakangan dikenal dengan nama Kolonel Nayla.

Saya mah, diadu sabung waktu belajar bela diri zaman sekolah dulu, keok. Menyisakan pilu, malu dan kaki pincang, bengkak karena kesleo terkena tendangan lawan. Dari review film Alif, Lam, Mim ini aku belajar bahwa kita harus bertawakal pada-Nya. Wait ... menurutmu tahun 2036 Indonesia akankah secanggih itu?
Sukma (lantanaungu.com)
Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email Kerja Sama: sukmameganingrum@gmail.com

Related Posts

2 komentar

  1. Wah..keadaannya kok relatable banget sama Indonesia 2019 yaa..
    Dimana orang muslim saling menyalahkan muslim yang lain.

    Aku rasa,
    zaman makin modern inu makin memudahkan orang untuk banjir informasi.

    Menarik banget ulasan film alif, lam, mim yang ternyata diambil dari nama ketiga pemeran utamanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, zaman kita mudah tergelincir dalam berita bohong. Di film Alif Lam Mim itu, di pesantren Kyai Mukhlis, Islam berbeda madzhab hidup harmonis dan tidak saling merasa benar. Sungguh hanya dalam film semua bisa nampak mudah dan indah.

      Hapus

Posting Komentar