BLANTERORBITv102

    Mengelola Waktu Di Masa Pandemi

    Senin, 19 Juli 2021


    Di masa pandemi seperti ini, kita seringkali merasa bosan dengan rutinitas harian. Lingkup yang kita jalani hanya di rumah. Bagaimana sih agar tidak bosan?

    Pekan kemarin aku mendapat materi dari reborn class dari grup Growing Umma. Materinya tentang pengelolaan waktu. Disampaikan oleh Umma Puput (www.seesiput.com). Cocok sekali dengan nuansa hatiku yang sedang ingin memperbaiki diri.

    Pengelolaan waktu di masa pandemi ini menjadi sesuatu yang urgent. Tentu saja, di luar sana saudara-saudara kita banyak sekali yang diberikan kesempatan syahid oleh wabah Covid-19. Lalu bagaimana kita yang masih berlumur dosa ini mampu mendapatkan kebaikan dengan umur yang bermanfaat.

    Seperti kita tahu, bahwa waktu tidak dapat diputar ulang. Kemungkinan mendapatkan pahala pada waktu yang telah lalu tidak akan bisa kita perbuat. Malaikat pencatat amal telah menulis apa saja sesuai yang kita perbuat. Sebagai contoh: Sukma shalat Ashar di akhir waktu karena terlalu asyik scroll sosmed. (Rapor merah di buku amal hari yang telah lalu)

    Hal-hal seperti ini bisa kita siasati dengan pengelolaan waktu yang baik. Sebelum kita bahas tentang pengelolaan waktu, kita cari tahu dulu ya mengapa hal ini menjadi urgent.

    Sebagai manusia apa sih yang Allah inginkan dari kita? Apa betul aku berbahagia dengan aktif di sosmed hingga scroll kebablasan berjam-jam ini Allah juga suka? Menurut firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah.

    Tafsir as-Sa'di/ Syaikh Abdurrahman bin Nasyir as-Sa'di dari ayat tersebut adalah, Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah. Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyeru pada tujuan penciptaan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah, yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. (Dikutip dari www.tafsirweb.com)

    Jika ayat ini direfleksikan pada diriku, seolah menjadi teguran yang keras. Bahwa aku ternyata Allah ciptakan untuk beribadah. Lalu aku menengok ke belakang, kondisi ibadahku selama ini jauh dari kata sempurna. Harus kuperbaiki segera sebelum malaikat izrail merampungkan tugasnya terhadapku. Lalu apa yang bisa kuperbuat untuk menambal ketidaksempurnaan ibadahku yang telah lampau?

    Sudah paham ya mengapa kita harus bersegera dalam pengaturan waktu yang baik. Bersyukur sekali, jika kita bisa beribadah dengan baik, pun berpartisipasi dalam syiar agama.

    Lantas bagaimana jika kita masih terjebak dengan rutinitas rumah tangga, hingga 24 jam per hari terasa kurang? Sebetulnya apa ya yang salah selama ini, hingga belum juga mahir menyelesaikan rutinitas sehari-hari pekerjaan seringkali menumpuk tak terselesaikan.

    Benar kata Umma Puput, seringkali ada rasa heran, bagaimana bisa ya seorang ibu yang memiliki pekerjaan sebagai CEO atau founder masih tetap amanah dalam membersamai anak-anak yang dalam pada situasi ini PJJ daring, bahkan beberapa memilih agar anaknya homeschooling. MasyaAllah tabarakallah ... mereka tetap waras dan terlihat sangat berbahagia. Baik Umma dan juga Anak.

    Betul sekali, melakukan pekerjaan rumah tangga dan membersamai anak, InsyaAllah sudah mengalirkan pahala. Cukupkah pahala tersebut untuk hidup senang-senang di surga nanti? Jika banyak sekali Umma di luar sana yang memaksimalkan ibadahnya demi menarik cinta Illahi Rabbi.
    Aku tercengang waktu Umma Puput menyampaikan prinsip waktu, dalam islam bukan Time is Money, melainkan Waktu adalah Modal.

    Baik kita maupun ibu kita dahulu, sama-sama diberikan 24 jam sehari. Namun, ibu kita rasanya jauh lebih cekatan dan serba bisa. Mereka tak hanya mendidik, tetapi juga sempat melakukan pekerjaan mereka dengan piawai. Sama-sama 24 jam tetapi lebih mendatangkan banyak pahala. ((Sampai di mari mupeeeeng .... ya khaan?))

    Ghirah dalam memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sudah ada pada mereka, dan aku kehilangan itu sepertinya. Perlu diunduh dan diinstal perangkat ghirah ini ya.

    Baiklah-baiklah, bukan itu perkaranya. Pengakuan dosa harus dimulai demi perbaikan diri. Diri ini memang sering menaruh harap pada manusia, yang berimbas pada kekecewaan. Sedangkan kekecewaan tidak membawa dampak baik bagiku selain kemalasan berkepanjangan.

    Aku yang dulu (read: kemarin atau bahkan tadi), masih suka baper jika hal yang kuharapkan ternyata tak terlaksana. Dan mulai sekarang, akan berusaha ikhlas, biar Allah saja jadi tempatku berharap. #TSAAAAAH

    Dikit-dikit ibadah, bukan dikit-dikit kecewa, InsyaAllah.

    Kiat-kiat sukses dalam mengelola waktu adalah:

    1. Menentukan skala prioritas pekerjaan (penting dan tidak penting)

    2. Membuat to do list harian

    Menentukan skala prioritas bagi masing-masing individu tentu berbeda-beda ya? Biasanya dipengaruhi passions dan juga bakat bawaan. Terlebih juga pada porsi iman dan taqwa seseorang. Berbicara soal iman dan taqwa tentu kita tak mau kan ya membual saja tanpa bukti nyata.

    Biasanya kalau kecewa saya suka cari pelarian, seperti bermalas-malasan, kadang kala scroll medsos, kadang juga cari inspirasi nulis dalihnya dengan menonton referensi film yang asyik. Besok-besok kalau nyeri hati, baca Al-Qur'an saja. 💛💛💛

    Jadi aku harus banget nih, merancang kegiatan yang merupakan skala prioritas. Ada banyak hal yang harus kukerjakan, penting atau tidak ya?


    Rumus dari yang bisa diadopsi dari tabel di atas adalah sebagai berikut:

    • Important VS Urgent= Do It Now!
    • Important VS Not Urgent= Deside
    • Not Important VS Urgent= Delegate
    • Not Important VS Not Urgent= Delete
    Dengan mengisi masing-masing tabel, kita akan memperoleh mana saja hal yang harus diutamakan, dipertimbangkan, didelegasikan bahkan dihapus dari jadwal harian.


    Semua kegiatan yang aku tulis dalam Daily Checklist ini adalah hal yang bisa kukerjakan sendiri. Memperbaiki diri dari sisi ibadah, adalah hal yang kuinginkan sejak lama. Melepaskan diri sedikit demi sedikit dari belenggu setan yang melenakan.

    Jika dihitung sejak aku dilahirkan dan mengemban tujuan penciptaan agar beribadah kepada-Nya. Maka ada banyak sekali hari yang ku lewat kan dengan hampa tanpa amalan yang berarti. Hari-hari dijejali dengan maksiat yang membuat diri terbelenggu rasa malas.

    Berada dalam circle orang beriman yang mengerjakan amal soleh saja tidak cukup. Aku juga harus melepaskan diri dari mengharapkan imbalan dari sesama makhluk. Menanamkan nilai keikhlasan, mengubah pola pikir agar berharap hanya kepada Allah.

    Banyaknya dera cobaan tidak membuatku dewasa dan matang dalam beribadah, tetapi menyeretku pada inner child negatif dan trauma. Membuat diriku bertindak auto pilot, menyusahkan orang-orang terdekat yang kucintai. Sudah saatnya berubah, memutus mata rantainya, menjadi pribadi yang mampu bersyukur dan berdaya guna bagi sesama.

    Dalam beribadah juga harus diperhitungkan, setidaknya selama 36 tahun ini andaikan masih ada umur, ingin sekali memperbaikinya. Misalnya dalam sehari harus ada 5-6 ayat pengganti.

    36 x 365 hari= 13.140
    Jumlah ayat dalam Al-Qur'an= 6.236 ayat
    (13.140/6.236)*5= 10,535599743425

    Setidaknya harus sebelas kali khatam. Jika sehari satu juz maka, dalam  sebelalas bulan baru bisa terealisasi. Itu pun jika Allah berkenan menghitungnya sebagai amalan, jika ternyata terselip riya', hangus lagi bukan?

    Lalu maksiat-maksiat yang sengaja dan tidak sengaja? Lalu Shalat yang masih belum khusyuk, benarkah kelak aku akan mendapatkan pahala berlimpah ataukah amalan yang sia-sia?

    Terlihat sepele amalan harian yang kurencanakan, tetapi dalam  pengaplikasiannya tidak mudah, terutama dalam hal mendidik. Terkadang rayuan gombalku tak diindahkan. Hal yang sering tak terealisasi adalah hafalan serta murojaah Vanya.

    Sebut saja aku sedang hidup nomaden ya Umma. Dari Awal pandemi hingga menjelang lebaran tahun 2021 ini, aku tinggal di Temanggung, suami bekerja di Bekasi, kami LDM (curcol dong ini). Daerah pegunungan yang dingin, suhu di sana lebih disukai anak-anakku. Mereka cukup istirahatnya kalau di Temanggung.

    Sebulan ini aku berada di Pati, dengan nuansa daerah pesisir yang berbeda. Hal yang sulit adalah perubahan itu membuat kebiasaan baik yang sudah terbangun di Temanggung harus dibangun ulang. Vanya yang tadinya sangat suka menulis untuk menghabiskan waktu. Kini terlalu asyik bermain bersama saudara sepupu. Tidak ada yang salah dengan itu, aku mensyukuri nikmat itu, artinya Vanya dan Aida mudah berbaur dengan lingkungan baru.

    Jadi, untuk naskah kelas menulis kali ini Vanya belum tertarik mengerjakan. Meskipun saat kutawarkan untuk mundur tetap tidak mau. Barakallah untuk materi pekan pertama dibaca tuntas dan ia bertanya beberapa hal kepadaku, juga mengerjakan tugas sebelum deadline.

    Untuk Aida, barakallahu fiik karena sudah menunjukan ketertarikan untuk membaca dan berhitung. Pre skill reading dengan membacakan buku berbuah manis. Ia menanyakan padaku, mana kata yang berbunyi seperti yang ia ingin tahu. Dan menunjuk beberapa kata agar aku membantunya melafalkan kata itu.

    Namun, persenjataanku di sini kurang mumpuni. Dalih nih dalih, padahal sedang dalam mode low budget buat beli printilan crafting buat penyemangat belajar calistung. Rindu Bekasi dengan buku-buku dan DIY persenjataan belajar anak pre school.

    Satu lagi hal yang sering terlewat yaitu agenda pillow talk dengan suami. Seperti waktu LDM-an kemarin, pillow talk ini biasa kami lakukan melalui chat. Kadang aku sudah terlelap tidur, anugerah tak terkira kalau bisa ngobrol berdua.

    Untuk tantangan yang kuperoleh mengenai kesulitan dalam mendidik, kali ini ada partner in crime, Bapak Suami Tercinta. Dengan bimbingan dan bantuannya InsyaAllah akan lebih mudah. Bunyinya begini, "Abi ... tolong bantu bujukin ya!"

    Suara alto Bapak-bapak memang membuat anak klepek-klepek. Beda dengan suara cemprengku, kuakui itu. Dan aku tak akan memaksakan diri, jatuhnya sakit. (DELEGATE)

    Dari rencana harianku itu 70-80% tercapai. Untuk amanah di ranah publik, agak tersendat juga. Sebab saya sedang puasa gadget. Supaya mengurangi protes anak, jika diatur waktu screen time

    Faktor yang mempengaruhi ketidakberhasilan dalam pengaplikasian rencana adalah rasa malas. Ini nasehat dari Umma Puput, ada banyak hal penyebab rasa malas ini. Dimulai dari hilangnya rasa ikhlas, kurangnya motivasi, circle pertemanan, terlalu cinta dunia, cobaan hidup, lingkungan tidak supportive, sering maksiat, tidak ada tujuan.

    Mumpung dalam masa pandemi yang menegangkan, nyawa melayang satu persatu. Yuk, buat kenangan indah untuk orang-orang terkasih, sebagai bentuk permohonan maaf. Buat diri kita menjadi golongan orang-orang beruntung, dengan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.

    Hampir terlupa, supaya tidak ambyar rencana harianku ini harus menyelipkan me time. Possion-ku menulis, sebetulnya sedang ada tiga proyek buku antologi yang menanti naskahku, tetapi belum ada ide klik untuk memungkasinya. Kali ini, aku menyalurkan me time-ku dengan memenuhi notepad-ku dengan tulisan untuk mai lope. Menggombal di usia pernikahan yang ke-11, supaya bisa terus bertahan.

    Lalu ... terakhir adalah ucapan terima kasih untuk Umma Puput, yang sudah membuat keinginan saya untuk berbenah mendapat banyak motivasi. Bagaimana dirimu mendeskripsikan pentingnya waktu, membuatku termotivasi. Dengan 24 jam yang sama, jalan hidup yang berbeda. Seharusnya menghasilkan pahala yang sebanding besarnya. Baik diuji dengan kelapangan atau kesempitan tak ada bedanya.

    Kali ini aku merasa bahwa, aku tak ingin ditebas oleh sang waktu. Semoga aku bisa meloloskan diri dari dekapan setan, hingga waktu yang Allah pinjamkan dengan batas waktu tidak habis sia-sia.

    Jazakunallahu khayran Umma Puput dan Growing Umma. Biizinillah dipertemukan oleh Allah.


    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com