BLANTERORBITv102

    Pendidikan Seksualitas Sejak Dini

    Rabu, 17 Maret 2021


    Pentingnya pendidikan seksualitas sejak dini berkaitan dengan maraknya tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Kepolosan anak, sering kali dijadikan ladang empuk para pedofilia menjadi ajang pemuas napsu. Tentu saja perkara ini menjadi masalah bersama, melindungi anak tidak sesimpel nenek moyang dahulu. Tidak sekadar melindungi dari terik matahari juga guyuran hujan.



    Persentasi dengan topik ke-2  "Pendidikan Seksualitas Sejak Dini" ini dipersembahkan oleh kelompok 2 (Batam, Bontara, Cianjur, & Cirebon Raya).

    Pendidikan seksualitas sejak dini dimulai dari usia 0 tahun, pemberian ASI ekslusif mengenalkan namanya serta mengenalkan orang tua adalah pendidikan tahap awal. Kasih sayang seorang ibu menjadi sarana pertama ia belajar mengenai ksih sayang terhadap sesama manusia.

    Ketika anak menginjak usia 3-6 tahun, anak diajak mengenal perbedaan antara perempuan dan laki-laki, Ayah adalah laki-laki, dan ibu adalah perempuan. Mendekatkan anak dengan ayah ibunya, mengenalkan anak pada keluarga besar, lingkungan tempat a tinggal. Mengenalkan siapa saja yang boleh memegang tubuhnya.

    Mengenalkan anak kepada keluarga besar akan membuatnya menemukan banyak role model yang berbeda. Membuatnya lebih memahami perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Membuat anak merasa tak sendiri, ada saudara lain yang ia miliki selain keluarga inti.

    Saling Menyayangi (Kemesraan Orang Tua dalam Keluarga)

    Saling menyayangi ini ternyata dari ungkapan sayang Ayah kepada Ibu atau sebaliknya. Anak-anak merasa nyaman kalau kedua orang tuanya tampak rukun dan bahagia. Saling menyayangi dan menghormati antara ayah dan ibu, juga sebagai teladan yang mengajarkan anak ketika kelak mereka menjadi orang tua.

    Mengajarkan anak bahwa suami istri, atau bapak dan ibu saling mencintai. Mengajarkan kepada anak cara-cara sederhana mencinti dan menyayangi, dan memperhatikan pasangannya.

    Tidur terpisah dari Orang Tua dan Saudara

    Pada hal ini anak belajar untuk memiliki ruang privasi, sebaiknya juga dengan diajarkan untuk memahami adab-adab terhadap orang tua. Diberitahukan bahwa  harus meminta izin untuk masuk ke kamar orang tua.

    Vanya sudah meminta untuk memiliki kamar sendiri, waktu itu dia pernah mendapatkan kajian mengenai ini. Sebetulnya baik Vanya maupun Aida keduanya sudah siap jika harus tidur terpisah dari saudara dan orang tua. Semoga nanti ketika sampai di Bekasi, bisa langsung eksekusi ya.

    Waspada Terhadap Orang Sekitar

    Anakku merasa setiap orang dewasa itu baik, ketika ia berusia 5 tahun, sehingga apa pun yag diucapkan oleh orang dewasa meskipun itu tidak bermartabat, Vanya tak segan menirunya. Meskipun pada saat yang sama kuberitahukan bahwa hal itu tidak seharusnya ditiru. Vanya memberi jawaban yang diplomatis, "Orang dewasa itukn baik Ma, contohnya Mama, nggak mau kalau ngajarin yang nggak baik sama Mbak Vanya."

    Memang kemampuan anak untuk membedakan hal baik dan buruk baru akan sempurna saat memasuki usia sekolah (7 tahun). Jadi sebelum itu, sebaiknya saat bermain selalu didampingi. Sebab, membiarkan anak brtemu dengan contoh perilaku yang tidak ahsan hanya akan membuat diri kita kepayahan.

    • Ajarkan anak untuk bisa menjaga keselamatannya. Memberitahukan apa saja yang tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya.
    • Ajarkan pada anak pengertian bahwa orang yang baru dikenal bisa saja baik. menanamkan sikap waspada, bukan takut.
    • Belajar percaya naluri, jika pada suatu keadaan membuat anak merasa tidak nyaman. Minta anak untuk menghampiri orang tua.
    "Bila seseorang memintamu untuk menyimpan rahasia, katakan pada Ayah dan Ibu." -Amber Ledergerber seorang guru di Canada-


    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com