BLANTERORBITv102

    Perangi Anemia Defisiensi Besi! Hempaskan Stunting!

    Rabu, 24 Februari 2021
    Ibu sebagai agen perubahan, dari rahim perempuan generasi penerus bangsa dilahirkan. Membangun peradaban selanjutnya dengan generasi cerdas, berkarakter, dan unggul adalah harapan bagi setiap ibu di Indonesia. Untuk itu perlu sekali jika calon ibu mendapatkan edukasi yang cukup semenjak memasuki masa remaja. Sebagai bekal dalam mengupayakan generasi yang bernas di masa mendatang.

    Dulu ketika menantikan hadirnya janin dalam kandungan menjadi hal yang mendebarkan. Menjelang dua tahun pernikahan, ketika akhirnya Allah izinkan rahim saya berisi janin. Kebahagiaan itu padam seketika saat bulan awal pemeriksaan, janin kami dinyatakan tidak berkembang. Terjadi perdarahan dan berakhir dalam ranjang kuretase.

    Air mata berlinang waktu itu, tetapi memunculkan rasa keingintahuan yang mendalam mengenai persiapan kehamilan. Agar hal semacam itu tidak terulang di masa berikutnya. Saya sibuk memperkaya wawasan bagaimana calon ibu sebaiknya mempersiapkan diri, jika kelak Allah titipkan segumpal darah dalam rahim ini lagi.

    Tekad kuat untuk menyambut calon janin, agar bisa berkembang hingga akhirnya terlahir ke dunia. Mempersiapkan nutrisi, begitu yang saya peroleh dari meramban. Pada masa saya dulu, masih minim pembekalan kesehatan reproduksi pra nikah.

    Pembangunan kesehatan merupakan modal utama dalam mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing, dan berkualitas. Pandemi Covid-19 yang berlangsung selama setahun belakangan ini, tidak hanya berpengaruh terhadap perekonomian banyak orang. Tetapi juga akses terhadap pemenuhan gizi terhadap keluarga. Berbicara mengenai pemenuhan gizi, kita tidak hanya membahas masalah kita hari ini, namun generasi Indonesia pada masa mendatang.

    Indonesia Mengalami Masalah Anemia Kurang Zat Besi

    Indonesia pada masa ini mengalami tiga permasalahan yang berkaitan dengan nutrisi (triple burden) yaitu, stunting, wasting dan obesitas, serta kekurangan zat besi mikro seperti anemia. Pemaparan dari Spesialis Gizi Klinik dari Indonesian Nutrition Association (INA) Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK dalam webinar bertema "Peran Nutrisi Dalam Tantangan Lintas Generasi", yang digelar Danone Indonesia dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional beberapa waktu lalu.

    Keping hemoglobin tampak lebih kecil  pada penderita anemia. Sumber: Youtube Nutrisi Untuk Bangsa

    "Seseorang dengan kondisi anemia defisiensi zat besi (ADB) beresiko melahirkan bayi berat badan rendah (BBLR), komplikasi saat melahirkan, dan komplikasi lain. Padahal kondisi ABD sendiri dapat terjadi lintas generasi, dan diturunkan sejak remaja, ibu hamil, anak, dan seterusnya, "tutur Dr. Diana.

    "Semoga banyak calon ibu di Indonesia tidak terlambat mengetahui informasi penting ini. Agar peduli terhadap pentingnya zat besi bagi kesehatan lintas generasi."

    Dr. Diana menyampaikan, bahwa remaja penderita ADB, akan lebih sulit mengoreksi kekurangan zat besinya pada masa kehamilan nantinya. Ibu hamil dengan ADB berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan rendah, kemudian beresiko mengakibatkan balita stunting.

    Mendengar masalah stunting ini saya sempat mengalami dilema. Saya ibu dari dua orang anak perempuan, keduanya lahir pada usia kehamilan yang cukup. Berat bayi saat lahir, Vanya 3000 gram, sedangkan Aida 3050 gram. Namun pertambahan berat badan keduanya berjalan lambat.

    Info seputar stunting saya baca berulang kali, dan mencocokan dengan keduanya. Mewaspadai, dan melakukan upaya pencegahan terhadap stunting. Ketika melakukan pemeriksaan bulanan baik di posyandu atau pun bidan, sudah mempersiapkan diri jika pada akhirnya balita saya termasuk dalam kategori stunting. Alhamdulillah hal itu tidak terjadi. 

    Mungkin dahulu saya termasuk remaja yang mengalami anemia defisiensi besi atau mungkin balita stunting. Jika saya coba telusuri kembali melalui bekal ilmu dari webinar ini. Namun, saat itu saya rajin meminum multivitamin penambah darah yang saya siapkan swadaya, berolah raga, serta menjalankan pola hidup sehat. Sebelum masa kehamilan, saya juga mengonsumsi susu tinggi asam folat dan DHA, menggenapi ikhtiar memiliki momongan.

    Siklus stunting, yang harus kita putus mata rantainya. Sumber: Youtube Nutrisi untuk Bangsa


    Menurut Riskesdas tahun 2018, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8% dan mencapai peringkat empat dunia. Sedangkan 48,9% ibu hamil menderita anemia, dari angka tersebut 84,6 di antaranya adalah kehamilan di usia remaja 15-24 tahun. Hal ini disebabkan ibu hamil pada usia itu belum mempersiapkan kehamilan dengan baik.

    Kemudian proporsi anemia pada balita adalah 38,5%. Secara global, 50-60% angka anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi. Dengan kata lain anemia dengan defisiensi zat besi ini ternyata juga menjadi masalah dunia.


    Bagi saya, sebagai seorang ibu, mengupayakan agar buah hati mendapatkan nutrisi yang terbaik adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang kepada buah hati. Calon ibu sebaiknya mempersiapkan diri dengan baik, memenuhi nutrisi yang kelak akan dibutuhkan oleh janin. Ingat! Pembentukan otak sudah dimulai saat masih berbentuk janin hingga berusia 2 tahun.

    Was-was, begitulah yang saya rasakan. Ketika Aida, anak kedua saya, pada bulan awal kelahirannya hanya naik 4 ons saja. Sedangkan yang tertera pada KMS, bayi harus naik berat badan minimum 8 ons. Setiap minggu, saya memonitor, hanya naik 0,5 ons saja. Benar saja ketika bulan kedua berat badan Aida menjadi 3,05+0,4+0,2= 3,65 Kg.

    Lalu perjalanan panjang menuju berat ideal  Aida dimulai. Pertanyaan yang selalu muncul saat pertama kali berjumpa, baik dokter spesialis anak, bidan atau spesialis gizi adalah berapa berat badan Aida saat lahir?

    Sebab stunting selalu berkaitan dengan kurangnya asupan nutrisi, terjadi sudah semenjak dalam kandungan. Aida bukan picky eater, ia menyukai lebih banyak jenis makanan ketimbang Vanya. Namun, pertambahan berat badan Aida selalu kurang. Beruntung tinggi badan Aida, lingkar kepala, dan tahap perkembangan motorik serta kognitifnya sesuai dengan perkembangan usianya.

    Gejala, Dampak Anemia Defisiensi Besi (ADB)

    Perhatikan gejala anemia ini. Sumber: Youtube Nutrisi untuk Bangsa

    Pada tahap awal gejala anemia defisiensi zat besi bisa sangat ringan, sehingga sulit terdeteksi. Namun, seiring dengan berkurangnya kadar zat besi, anemia memburuk, tanda dan gejalanya nampak jelas. Selain tanda gejala di atas, untuk mendeteksi anemia bisa dengan memperhatikan warna telapak tangan, pada penderita telapak tangan berwarna pucat, begitu juga dengan warna kuku.

    Untuk hasil deteksi yang lebih akurat, dengan cek darah. Pengukuran jumlah hemoglobin bisa dilakukan dengan jarum, untuk diambil sample darah. Info dari webinar, sekarang ada alat baru yang bisa digunakan untuk test anemia tanpa menggunakan jarum, namanya massimo. Dengan begini anak-anak akan lebih mudah diajak test anemia, jika diperlukan.

    Sepertinya Aida harus diuji kadar hemoglobinnya, jika memang mengalami anemia defisiensi zat besi bisa segera ditangani. Tidak berlanjut hingga usia sekolah. Meskipun untuk saat ini tidak ada gejala anemia pada Aida. Selain makanan beraneka ragam, memenuhi gizi seimbang, pola hidup sehat hingga aktifitas fisik tak luput dari upaya kami.

    Anak-anak merupakan aset bagi negara, tetapi dengan adanya isu tersebut maka terciptanya generasi emas bangsa pada seratus tahun kemerdekaan Indonesia, tahun 2045 menjadi penuh tantangan. Info mengenai bahaya anemia ini perlu disampaikan secara luas agar masyarakat Indonesia siap bersama-sama memerangi anemia.

     Dampak defisiensi zat besi pada anak dalam jangka pendek adalah:

    • Menurunnya kognitif/kecerdasan (IQ) pada anak
    • Mengurangi fungsi otak (atensi, pendengaran, visual)
    • Menurunnya fungsi motorik.

    Dampak defisiensi zat besi pada anak jangka panjangnya adalah:

    • Menurunnya performa di sekolah (kemampuan membaca, menulis, dan berhitung berkurang)
    • Perubahan atensi dan sosial karena kurang tanggap terhadap lingkungan sekitar
    • Perubahan perilaku (kurang aktif bergerak, kurang atensi, kurang responsif, tidak ceria dan mudah lelah)

    Zat besi merupakan mineral pembentuk hemoglobin, sehingga jika defisiensi zat besi, maka pembentukan hemoglobin menjadi terhambat, sehingga jumlahnya tidak memenuhi. Hemoglobin berfungsi untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh, hingga ke otak. Anemia defisiensi zat besi, bisa menyebabkan kerja otot jantung menjadi lebih keras, sehingga mengkibatkan otot pada jantung membesar. Mengakibatkan penderita ADB mudah berdebar-debar, dan pusing berkunang-kunang.

    Selain itu zat besi merupakan salah satu komponen pembentuk sel neurotransmiter dalam otak, juga pembentuk myelinUntuk apa myelin? Saraf otak bekerja berdasarkan aliran impuls dari saraf satu ke saraf lainnya. Tanpa myelin, maka aliran impuls itu tidak bekerja secara optimal. hal ini bisa berakibat pada menurunnnya kecerdasan serta daya cepat tanggapnya.

    Bagi remaja, dampak yang ditimbulkan juga sama, remaja menjadi kurang konsentrasi saat belajar, mudah lelah saat melakukan aktifitas, daya pikirnya lemot, bisa juga meningkatkan infeksi dan penyakit kronis. Jika anemia terus terjadi hingga kehamilan, hal ini menjadi lebih berbahaya.

    Dampak defisiensi zat besi pada kehamilan meliputi:

    • Preeklamsia
    • Meningkatnya resiko infeksi
    • Kelahiran bayi prematur
    • Gangguan pertumbuhan janin
    • Gangguan fungsi jantung
    • Perdarahan pasca melahirkan

    Upaya Memutus Mata Rantai Anemia, Wujudkan Indonesia Sehat dan Kuat

    Dari webinar ini, saya memperoleh info bahwa sudah dilakukan banyak upaya untuk mengatasi permasalahan ADB, baik dari pemerintah, kelompok sosial, atau pun perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Permasalahan ini akan lebih mudah diatasi, jika masing-masing individu memiliki kepedulian terhadap hal ini. 

    Langkah awal dalam upaya mewujudkan Indonesia sehat dan kuat adalah dengan memahami penyebab terjadinya kondisi anemia defisiensi zat besi.

    Berikut penyebab kekurangan zat besi pada anak:

    • Terlambat memperkenalkan MPASI
    • Pola konsumsi, kurang asupan protein, terutama hewani
    • Kurang konsumsi fortifikasi zat besi
    • Pemberian suplementasi zat besi yang tidak sesuai
    • Tidak patuh meminum suplementasi karena keluhan mual
    • Penyerapan zat besi yang kurang optimal
    Ternyata, terlambatnya memperkenalkan MPASI pada balita berdampak pada kurangnya asupan zat besi. Hal ini disebabkan karena anak yang terlambat dikenalkan dengan MPASI menjadi lebih sulit mencerna makanan, terutama serat daging. Pada masa berikutnya anak cenderung menjadi picky eater. Asupan yang beragam membuat terpenuhinya zat besi yang dibutuhkan tubuh.

    Jika anak menjadi pemilih makanan, maka pola konsumsinya jadi tidak beragam. Untuk memenuhi kebutuhan zat besi bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang telah difortifikasi dengan zat besi, umumnya berbentuk tepung terigu, minyak, dan susu pertumbuhan.
    Vitamin C merupakan komponen pembantu penyerapan zat besi. 

    Dari tabel di atas, bahan makanan sumber zat besi tertinggi pada hewani (zat besi heme/mudah diserap tubuh) yaitu pada hati ayam, sebanyak 8,99 mg/100g. Dan 13,44 mg/100g pada sumber zat besi nabati (non heme/sulit diserap tubuh) yaitu kecipir. Tabel di atas, bisa dimanfaatkan untuk merencanakan menu isi piringku.

    Perlu diperhatikan penyerapan zat besi dapat berlangsung optimal dengan bantuan vitamin C. Sehingga antara sumber makanan dengan kandungan zat besi dan vitamin C perlu dikombinasikan. Pada bahan makanan terlebih yang mengandung zat besi non heme, zat besi yang terkandung adalah besi dengan valensi 3 (Fe3+). Sedangkan kemampuan tubuh menyerap zat besi adalah besi dengan valensi 2 (Fe2+).

    Vitamin C menjadi enhancher karena vitamin C membantu penyerapan besi non heme dengan mengubah bentuk feri menjadi fero yang mudah diserap. Jika tidak dibarengi dengan konsumsi makanan yang mengandung vitamin C maka penyerapan zat besi menjadi terhambat. Meskipun makanan yang dikonsumsi ternyata sudah tinggi zat besi.


    Selain itu, konsumsi makanan dengan kadar zat besi tinggi tidak akan optimal penyerapannya, jika dibarengi dengan konsumsi makanan yang ternyata menjadi penghambat penyerapan zat besi. Apa saja penghambatnya?

    Zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi atau inhibitor, antara lain:
    • Makanan dengan kandungan tanin (teh & kopi) 
    • Makanan dengan kandungan fitat (kacang-kacangan, beras merah & gandum)
    Zat makanan penghambat ini, sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan dengan kandungan zat besi, agar penyerapannya bisa optimal.

    Dulu waktu Vanya bayi, kurang lebih berusia 6 bulan. Pernah mendapatkan multivitamin penambah darah dari dokter spesialis anak yang kami kunjungi. Akan tetapi saya lupa akan diagnosa dan gejala yang dikeluhkan.

    Dari keterangan di atas, saya mencoba untuk mengingat kembali. Apakah pemberian nutrisi seimbang saya sudah cocok selama ini? Benarkah makanan dengan tinggi zat besi sudah disertai dengan konsumsi vitamin C? Atau malah sebaliknya, berbarengan dengan konsumsi penyebab zat besi terhambat penyerapannya?

    Menilik dari hal ini, saya juga harus lebih aware terhadap fakta di atas. Agar membantu kerja usus halus dalam melakukan penyerapan sumber gizi bagi tubuh.

    "Intervensi melalui pemenuhan nutrisi dan edukasi secara menyeluruh merupakan upaya yang dapat dilakukan baik di lingkup pribadi, keluarga, kelompok dan masyarakat."

    Program pemerintah dalam menangani isu anemia, stunting, dan masalah gizi lainnya cukup beragam. Pada bayi dan balita dilakukan pemantauan pertumbuhan. Biasanya di posyandu, bagi bayi/balita dengan kondisi stunting, dan berat badan kurang, diberikan PMT/MPASI berupa biskuit yang memiliki nutrisi gizi seimbang. Juga fortifikasi besi dan kegiatan suplementasi (taburia).

    Pada remaja, difasilitasi dengan posyandu remaja, di sana dilakukan edukasi kesehatan. Meliputi penanaman pola hidup sehat, makan makanan yang bersih dan bergizi seimbang. Pembekalan tentang kesehatan reproduksi, n pemberian suplementsi besi dengan tablet tambah darah (TTD). Kemenkes juga membuat aplikasi android bertajuk CERIA (Cegah Anemia Remaja Indonesia), yang berisi pengingat jadwal meminum TTD seminggu sekali, dan juga mengisi rapor jika sudah meminum TTD.

    Seperti kita tahu, untuk ibu hamil, peraturan minimal cek kehamilan 4 kali dalam masa kehamilan yang kini diubah menjadi minimal 6 kali. Menjadi upaya kesungguhan dari pemerintah untuk memberantas stunting dan juga anemia. Pemberian 90 butir TTD kepada ibu hamil, dirasa mampu untuk memperbaiki kondisi anemia pada ibu hamil.

    "Meski demikian kepatuhan individu untuk sadar bahwa mengonsumsi TTD adalah kebutuhan harus terus diedukasikan. Jika sudah menjadi kesadaran bersama, generasi emas bukanlah impian semata."


    Tentu keberhasilan penanganan ADB dan stunting butuh kerja sama berbagai pihak. Danone Indonesia melalui Bapak Arif Mujahidin, selaku Corporate Communication Director menyampaikan visi "One Planet, One Health". Dari visi ini Danone berkomitmen untuk selalu berinovasi dan berkolaborasi dengan pemenuhan nutrisi dan hidrasi.

    "Kami menyediakan inovasi nutrisi yang dapat membantu pemenuhan zat besi serta mendukung penyerapan zat besi pada anak berusia di atas satu tahun," terangnya.

    Bukti komitmen Danone dalam menjadi bagian dari solusi malnuisi dan masalah kesehatan ibu dan anak adalah:

    Isi Piringku, program pendidikan yang bertujuan untuk memerangi masalah stunting, dengan kampanye gizi seimbang. Danone membuat lagu isi piringku untuk mengedukasi anak-anak usia 4-6 tahun, agar semangat untuk makan gizi seimbang.

    Warung Anak Sehat, pendidikan untuk ibu kantin agar menyediakan makanan gizi seimbang untuk para siswa di sekolah. Program ini bertujuan agar kantin sekolah menjadi sarana siswa mendapatkan makanan yang bersih, dan bergizi.

    AMIR, gerakan ayo minum air ini, mengajak anak-anak agar memenuhi kebutuhan air minum harian 6-8 gelas per hari.

    GESID (Generasi Sehat Indonesia), bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kepada remaja SMP dan SMA tentang pentingnya mengonsumsi gizi seimbang, kesehatan reproduksi, serta pembentukan remaja berkarakter. Gesid ini sudah bekerja sama dengan 10 sekolah menengah,  20 guru pendamping, dan 60 siswa sebagai Duta GESID. Terdapat tiga modul untuk remaja SMP dan SMA yaitu, Aku Peduli, Aku Sehat dan Aku Bertanggung Jawab.

    DUTA 1000 Pelangi, program pendampingan gizi karyawan dan keluarganya yang diadopsi dari program pemerintah 1000 hari pertama kehidupan.

    Bersama Cegah Stunting, upaya pencegahan stunting Danone Indonesia yang mengintegrasikan program unggulannya untuk mendukung intervensi nutrisi yang spesifik dalam mengurangi stunting di Indonesia. Program ini didukung penuh oleh mitra utama dari pemerintah dan organisasi terkemuka.

    Menarik ya program-progam besutan danone, terlebih mengenai fortifikasi makanan dengan zat besi dan juga vitamin C. Inovasi ini dirasa akan membantu mempercepat penanganan anemia defisiensi besi yang juga menjadi penyebab stunting. Pasalnya pemenuhan gizi seimbang dalam masa pandemi ini menjadi pe-er tersendiri. Di samping kondisi perekonomian sedang kurang baik, fortifikasi zat besi plus vitamin C mempermudah masyarakat mendapatkan komposisi terbaik bagi anak picky eater.

    "Semoga Indonesia menjadi kuat dan sehat, terima kasih INA dan Danone Indonesia atas ilmunya. Teruslah berinovasi dan mengedukasi. Salam sehat untuk semuanya."

    Daftar Pustaka

    1. Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK & Arif Mujahidin: Nutrisi Bangsa, 2021, Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi. Diaksed dari: https://www.youtube.com/watch?v=fuYipQ_bdn8&t=1184s Diakses pada: 18 Februari 2021
    2. Dhian Dipo, Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc, Vera Galuh Sugijanto: The Jakarta Post, 2021, Jakpost Upclose #29: Ironclad: Ending Intergenerational Anemia with Good Nutrition. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=qnkwOTYL-zk&t=2532s Diakses pada: 22 Januari 2021
    3. dr. Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, SpGK: Nutrisi Bangsa, 2021, Webinar: Kekurangan Zat Besi dan Dampaknya Terhadap Kemajuan Anak Generasi Maju, Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=7qf1VMAnLp8&t=3757s Diakses pada: 22 Februari 2021
    4. Sarihusada, -, Edukasi Gizi & Kesehatan. Diakses dari: https://www.sarihusada.co.id/Inisiatif-Keberlanjutan-Sarihusada/Edukasi-Gizi-Kesehatan Diakses pada: 22 Februari 2021
    5. P2PTM Kemenkes RI, 2018, Isi Piringku Sekali Makan. Diakses dari: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/page/14/isi-piringku-sekali-makan Diakses pada: 18 Februari 2021

     


    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com

    1. arifatullisania05@gmail.com25 Februari 2021 08.28

      Terima kasih kakak, sangat membantu sekali, menambah wawasan saya ..

      BalasHapus
    2. seringkali deg-degan ya mbak kalau bayi lambat penambahan berat badannya, takut banget kalau stunting. Karenanya penting banget punya ilmu tentang bagaimana mencukupi gizi anak-anak bahkan sejak kita hamil.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Iya Mbak ... sedih deh rasanya. Apalagi kalau udah dibandingin dengan bayi lain. Suka down banget. Jadi kudu banyak belajar supaya galaunya berubah jadi upaya memerangi stunting.

        Hapus
    3. Gak nyangka ya kalau masalah anemia bisa berdampak sepanjang itu. Bisa menurun ke lintas generasi juga. Semoga kita semua semakin teredukasi tentang pentingnya menjaga tubuh dari anemia.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Iya Mbak ... ternyata anemia ini pada awalnya tidak nampak gejalanya. Jadi berasanya kita/anak kita baik-baik.
        Aamiin ... Betul banget edukasi menyeluruh ya Mbak supaya remaja putri juga aware mengenai ini.

        Hapus
    4. Perlu sekali adanya edukasi anemia ini, tidak untuk bumil saja, namun yang lainnya juga. terima kasih mbak

      BalasHapus
      Balasan
      1. Iya Kak ... supaya generasi kita menjadi generasi yang bernas. at besi tercukupi, aliran oksigen merata ke seluruh tubuh. Begitu pula pembentukan myelin di otak. Biar nggak lemot lagi.

        Hapus
    5. Semua pihak harus bergandeng tangan untuk menghempaskan stunting di Indonesia. Danone dan Indonesian Nutrition Association sudah memulainya. Semoga lainnya semakin gencar mengikuti.

      BalasHapus
    6. Ibu hamil dengan ADB berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan rendah, kemudian beresiko mengakibatkan balita stunting. Wah ini kalo denger kata stunting beneran bikin was-was. Anak saya semuanya lahir di atas 3000 gr sih, tapi yang cew nihhh susah banget naiknya tuh bb nya. Jadi emaknya agak parno, tapi masih masuk lah sama grafik KMS.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Iya Mbak ... Begitulah ya ... kecemasan emak-emak. Kalau saya beberapa kali menangis, karena ada aj yang bilang, sayanya nggak bisa ngurus anak. sediih deh ... tapi sebetulnya mereka peduli sih. hehe

        Hapus
    7. yuk kita hempaskan anemia ini, gak boleh dianggap remeh karena berbahaya efek jangka panjangnya kalo didiamkan tanpa penanganan yang benar

      BalasHapus
      Balasan
      1. Setuju ... biar generasi mendatang nggak lemot, lemah, lesu.

        Hapus
    8. Masalah tentang anemia ternyata dampaknya sangat panjang, selama ini kita begitu meremehkan tentang anemia ini dengan adanya edukasi seperti ini kita jadi lebih paham

      BalasHapus
      Balasan
      1. Betul sekali Mbak. Dari dulu sudah ada kasus ini, tapi baru ngeh belakangan, waktu sudah beranak pinak. Semoga generasi selanjutnya sudah lebih aware sedari mereka remaja, jadi paham unuk makan beraneka ragam dan berolah raga juga. Pokonya ga boleh dibiarin ya Mbak.

        Hapus
    9. Ternyata banyak juga ya program dari Danone untuk kampanye mendukung gerakan kesehatan ibu dan anak. Saya tahunya isi piringku, waring sehat sama GESID aja. Ternyata masih ada yang lain. Semoga dengan program-program ini bisa membantu upaya pemerintah memberikan edukasi pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu dan balita, dan bagi seluruh anggota keluarga juga tentunya

      BalasHapus
      Balasan
      1. Iya Mbak ... ternyata banyak yang sudah danone kerjakan. Ada Taman Pintar di Yogyakarta dan juga rumah bunda sehat atau apa ya lupa. Pokoknya tentang proses pembuatan tempe gitu. Aamiin iya, semoga msyarakat lebih teredukasi lagi ya Mbak.

        Hapus
    10. Anemia Defisiensi Besi atau ADB ini penting banget diketahui ya Mbak, agar anak kita terhindar dari stunting. Isi piringku itu mesti jadi pedoman makan keluarga setiap harinya ya, noted

      BalasHapus
    11. Iya Mbak, isi piringku ini perlu banget buat kita emak-emak.

      BalasHapus
    12. jadi anemia defisiensi besi ini bisa mengakibatkan stunting ya mbak, penting banget deh kita bis memperhatikan isi piring kita sekarang ya mbak

      BalasHapus
      Balasan
      1. Iya Mbak ... selain itu jua harus konsumsi makanan dengan kandunan vit C

        Hapus
    13. Anemia ini ternyata membawa dampak yang menyeramkan ya mbak bagi ibu hamil. Jadi ingat kenapa ibu hamil suka diberi aneka macam vitamin salah satunya mencegah anemia ini ya

      BalasHapus
    14. Saya pribadi baru mengenal istilah stunting pada tahun 2018, itu pun karena diundang ke acara sosialisasi Kemenkes tentang stunting, agaknya dulu isu stunting tidak marak ya, tapi sekarang sudah bisa diakses di mana-mana. Well, memerangi anemia itu sangat penting, jadi memang harus diketahui penyebab dan cara mengatasinya dengan baik

      BalasHapus