BLANTERORBITv102

    Pendidikan Jelang Baligh

    Jumat, 05 Juli 2019
    Bismillahirrahmanirrahim 💙💙💙


    Menuliskan kembali sebagai murojaah ilmu yang diperoleh ketika kajian online bersama Ummi Kurnia Sari Mulia.

    Ummi Mulia berkata bahwa pendidikan jelang baligh ini sangat kurang gaungnya. Meskipun beliau sudah merintisnya sejak 2005 bersama lembaga LPPA di Medan miliknya. Minim mitra bicara serta beberapa ustaz yang mumpuni kurang merespon ketika beliau kunjungi.

    Baru di tahun 2016, mulai berkembang dan pertemuan beliau dengan Bunda Elly Risman membuat usahanya semakin membuahkan hasil. Memang benar adanya, emak-emak seperti saya cenderung berfokus pada pendidikan usia dini tanpa mempersiapkan diri untuk menyempurnakan pendidikan jelang baligh.

    Padahal alangkah baiknya jika sejak awal menikah kita sudah tahu pasti, ketika memiliki buah hati maka langkah-langkah mendidiknya sudah diketahui dengan baik. Jadi emak macam saya ini merasa kejar tayang antara belajar dan mendidik anak.


    Sungguh pilu terasa di relung hati. Tergopoh-gopoh emak waktu mendapatkan kajian ini. Bagaimana tidak? Pendidikan jelang baligh ini seharusnya dimulakan dari usia anak nol tahun. Sedangkan usia anak emak enam tahun dan juga tiga tahun. Banyak yang harus kejar tayang, bukan begitu? Sebagai awalan kita ulas dulu pengertian dari baligh tersebut.

    "Baligh adalah sebuah situasi di mana manusia secara fisik, dan kemampuan berpikir, sudah mampu menanggung beban syar'i." 
    Menurut Imam Syafi'i paling lambat usia 15 tahun dalam hitungan tahun hijriah. 
     
    Kondisi baligh ditandai dengan proses menstruasi pada anak perempuan, dan mimpi basah pada anak laki-laki. Bukan pada tanda baligh, atau tata cara fiqih yang wajib dilakukan saat momen ini tiba.

    Persoalannya justru pada bagaimana kita sebagai orang tua memberi bekal kepada Ananda setelah ia masuk masa baligh. Ia sudah mulai menanggung beban syar'i seperti orang dewasa hingga kelak ia meninggal. Kecuali jika ia hilang akal/gila.

    Orang tua harus memiliki visi misi yang jelas, sebagai contoh 'masuk surga sekeluarga'. Setelah itu memikirkan bekal apa yang akan kita berikan untuk mengarungi hidupnya.

    Dalam benak muncul berbagai pertanyaan seperti :

    • Bagaimana cara mendidiknya?Anak membutuhkan kita pada akar aqidah yang kokoh, yang tumbuh subur dan menjadi ihsan. Terwujud dalam ibadah yang bertanggung jawab dan akhlaqul karimah.

    • Dari usia berapa? Dari nol tahun.

    • Siapa murrabinya? Ayah dan ibunya.

    • Apakah bisa disubkontrakkan kepada orang lain atau lembaga tertentu? Tidak bisa

    • Kenapa tidak bisa? Bukankah lembaga pendidikan memiliki visi menjadikan generasi akhlakul karimah dan sejenisnya? Tetap tidak bisa.

    Alasan yang mendasari mengapa pendidikan jelang baligh tidak bisa disubkontrakkan, yaitu :

    • Lembaga pendidikan itu bersifat masal tidak spesifik, jadi hanya bisa digunakan untuk support.

    • Lembaga itu hanya memberikan knowlage karena keterbatasan waktu, tempat dan sumber daya.

    • Intensitas harian hanya bisa dilakukan orang tua karena waktu anak lebih banyak bersama orang tua. Dan poin-poin ibadah dari bangun tidur hingga beranjak tidur, lebih banyak dalam pengawasan orang tua.

    • Tidak mungkin pelayanannya spesifik per anak sesuai pertumbuhan fisik dan psikogis anak.

    • Dalam prakteknya sering kali sekedar drilling (latihan rutinitas shalat). Tanpa menjelaskan mengapa harus shalat, mengapa lima waktu, mengapa banyak. Akhirnya kosong makna, tidak mampu menjawab sempurna kebutuhan 5W+1H. Banyak orang tua yang lupa menjelaskan semua itu, atau mungkin tidak tahu jika itu adalah hal yang krusial.

    • Terlalu banyak materi tidak penting yang berada dalam materi hingga yang penting tercecer.

    • Orientasi edukasi masal sudah berubah dari ilmu kepada performa yang bisa ditampilkan. Padahal pada masa 0-10 tahun adalah masa terbaik untuk menanamkan nilai, bukan galang prestasi. Ini emak 'mak cleng', kena sentil. Senang bukan main kalau anak mendapat prestasi, padahal sedang dalam rangka menanamkan nilai. Prestasinya dipending hingga kelak ketika ia baligh.

    • Membangun kesadaran beraqidah bukan sekadar membangun habbit melainkan karakter.

    • Role model yang utuh adalah orang tua itu sendiri.

    • Tarbiyah adalah menularkan sistem nilai, hal inilah yang menyebabkan penyampaian nilai keluarga harus dilakukan oleh orang tua.

    Pendidikan jelang baligh atau pondasi penanaman aqidah dan akhlak pada anak tidak bisa disubkontrakkan. Emak mulai paham bahwa dalam kegiatan sehari-hari di saat kita mengajari anak banyak hal tentang dunia ini. Selipkan tadzabbur Al-Quran, agar iman anak kuat.

    Hal ini juga harus dibicarakan secara serius oleh Ayah Bunda. Sebab keduanya harus mengambil peranan yang sesuai. Anak laki-laki dibimbing oleh ayahnya, karena yang sesama gender mengetahui dengan pasti sensasinya seperti apa. Begitu juga dengan anak perempuan, harus ibu yang membimbing.


    Sambil ngopi di teras ganti topik bahasan receh Ayah Bunda dengan peta pendidikan jelang baligh yang harus dipahami sejak awal. Supaya bisa bersama-sama menjalani peran.

    Sebagai ibu, meskipun sudah melahirkan, bukan berarti kita langsung jago dalam mengasuh dan mendidik anak. Banyak di antara kita yang minim bekal ilmu pernikahan dari kedua orang tua kita. Jadi harus rajin meng-upgrade ilmu. Oleh karena tantangan zaman,dan usia anak melaju, harus dibarengi dengan ilmu yang sesuai.

    Usia anak 3-5 tahun, anak sedang dalam tahap egosentris sekaligus peneguhan gender. 

     

    Basicly, untuk usia ini poin 7-10 adalah jawabanya. Role model atau uswatun hasanah adalah yang terbaik. Perilaku Ayah sebagai seorang lelaki, dan perilaku Bunda sebagai perempuan akan sangat membekas.

    Ketaatan Ayah Bunda dalam beribadah, ungkapan-ungkapan kecintaan Ayah Bunda terhadap Illahi Robbi, akan terekam dengan jelas oleh anak. Bagaimana kasih sayang Ayah, dan Bunda dalam mendidik dan mengasuh akan menjadi perilaku mereka.

    Perbanyak bermain dengan unsur alam, minimkan mainan build up. Dengan begitu akan muncul curiosity pada anak, sehingga muncul pertanyaan cemerlang, yang mengantarkan anak mendekat dengan pencipta-Nya, seperti kedekatan dengan Ayah dan Bunda.

    "Lakukan dengan cinta tanpa target, apalagi cepat-cepat, nikmati saja prosesnya."
    "Sebab yang Allah NILAI prosesnya bukan semata-mata hasilnya. Hasil hanyalah sebuah ekses dari usaha."

     

    Sedangkan ketika anak sudah mulai berusia 7-10 tahun mulai perlu diajarkan rutinitas ibadah, diperintah untuk belajar menjalankan kewajiban yang kelak ketika baligh ia harus kerjakan. Seperti salat fardu dan puasa Ramadan.

    Jika orang tua terlambat mengetahui pendidikan jelang baligh ini maka langkah yang harus diambil adalah dengan memohon ampunan kepada Allah atas kelalaian kita. Minta maaf kepada Ananda bahwa ada haknya yang tercecer. Yaitu kewajiban kita yang tidak kita kerjakan dengan tepat.

    Sering-seringlah memeluk dan membimbing Ananda, mencium ubun-ubun Ananda, berdo'a agar dimudahkan dalam membimbing Ananda. Dan harus dilakukan secara kompak oleh Ayah Bunda.

    Akan lebih berliku jalan yang dilalui, kemungkinan penolakan dari anak lebih besar. Untuk itu perlembut, jika anak menolak. Beri penjelasan singkat tidak lebih dari 15 kata. Lebih baik dijelaskan di saat situasi sudah membaik, akan lebih baik dampaknya.

    Landasan berpikir itu penting ya Mak. Tips, dan trik itu mengikuti, kita akan selalu menemukan cara yang pas dengan situasi yang ada.

    Semangat, jangan lupa bahagia.
    Perbanyak syukur, kurangi mengomel ....
    (Ngomong kaya gini enaknya sambil ngaca, berasaaa banget) 😁😁😁

    Sampai ketemu dipostingan berikutnya. Bye ...!


    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com