Kamis, 04 Juli 2019

Kenalkan Karakter Sopan Santun Pada Anak

Bismillahirrahmanirrahim 😍😍😍
Sopan Santun Pada Anak

Kali ini mau mengupas tuntas tentang karakter sopan santun pada anak. Yang mana bangsa kita dahulu terkenal dengan penduduk yang ramah dan sopan. Tetapi ternyata bangsa lain seperti Jepang, Hongkong dan Korea juga santun-santun ya orangnya.

Zaman saya kecil, orang-orang sudah jarang sekali belajar bahasa Jawa Krama Inggil. Padahal itu adalah bentuk sopan santun dalam etnis Jawa. Apalagi sekarang, demi menjaga kesopanan, anak-anak cenderung diajarkan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa Krama Inggil.

Tidak jadi soal, karena sopan santun tidak terbatas hanya dalam percakapan. Mencakup pada tingkah laku dalam keseharian. Dan perlu digaris bawahi  tingkat kercedasan seseorang tidak menjamin terbentuknya karakter ini dengan baik.

Sopan santun ini termasuk akhlak mulia yang harus kita tanamkan pada anak-anak. Ada beberapa peribahasa jawa mengenai sopan santun.
"Becik ketitik ala ketara, artinya akan muncul kepermukaan yang baik dan yang buruk juga akan kelihatan."
"Ngunduh wohing pakarti, artinya menuai apa yang ditanam (kebaikan maupun keburukan."
"Mikul duwur mendem jero", artinya anak yang bisa menjunjung nama baik orang tua."
Akhlak baik (sopan santun) akan melahirkan sesuatu yang baik. Sebenarnya dengan berbahasa Jawa Krama Inggil, akan membuat orang lain menyegani. Selain ucapan yang baik, juga body language atau bahasa tubuh seseorang akan memperbaiki citranya.

Mengenalkan dan mendidik sopan santun pada anak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu bertahap, karena banyak sekali yang harus diajarkan.

Tips Mengajari Sopan Santun Pada Anak

Bagaimana tips agar perkenalan serta pendidikan karakter sopan santun ini bisa berhasil dengan baik? Mari kita kupas tuntas dari satu per satu.


1. Sejak Usia Dini


Dimulai dari anak berusia 1-3 tahun. Secara bertahap agar menjadi kebiasaan, jika sudah menjadi kebiasaan maka akan sulit luntur. Tidak perlu menunggu anak sudah lebih besar karena akan sulit merubah kebiasaan yang sudah ada, ketimbang menanamkan kebiasakan baik sejak awal. Contoh kecilnya adalah : memberi salam, meminta izin, serta berdo'a sebelum melakukan aktivitas.

2. Menjadi Tauladan atau Role Model

Karena fitrah anak adalah peniru ulung, maka akan lebih mudah menerapkannya dengan kita melakukan hal tersebut. Anak mudah terpengaruh dengan apa yang kita kerjakan bukan apa yang kita perintahkan.

Akan sulit bagi anak, ketika kita meminta dia memberi salam atau meminta izin apabila kita sendiri tidak melakukannya. Namun jika melihat langsung perilaku baik akan mudah direspon oleh sensor peniru. Maka dari itu anak usia 1-5 tahun sebaiknya bermain bersama orang tua, agar tertanam adab baik sebelum di-launching untuk bersosialisasi.

3. Kenalkan Dengan Agama

Agama adalah pilar bagi manusia untuk mengenal baik dan buruk dengan lebih baik. Dengan mengenalkan agama, anak akan mengenal surga dan neraka. Anak termotifasi dengan kisah kebaikan kelak dibalas dengan surga. Menggambarkan keindahan surga yang akan diraih ananda jika selalu bersikap baik.

Pengenalan agama ini bisa dilakukan sedini mungkin, namun orang tua harus paham sejauh mana anak memahami konsep. Yang ringan-ringan terlebih dahulu. Dalam Islam bisa dengan hadits keutamaan memberi salam, keutamaan memberi hadiah, keutamaan tersenyum serta keutamaan berbuat baik kepada orang tua.

4. Dimulai Dari Hal Yang Sederhana


Ajari anak empat kata dasar dalam sopan santun, yaitu permisi, tolong, maaf dan terima kasih. Keempat kalimat ini merupakan kalimat yang sangat sering terucap dalam keseharian kita.

Ajarkan juga penggunaan kata tersebut. Berikan contohnya seperti :

  • Izin : "Permisi, Adik mau lewat ya Ma."
  • Meminta : "Tolong, buatkan Adik nasi goreng."
  • Bersalah : "Maaf ya Ma, minumnya tumpah."
  • Menerima kebaikan : "Terima kasih ya Ma" saat Mama selesai membuatkan nasi goreng, misalnya.

5. Bermain Peran atau Role Play


Fitrah anak adalah bermain, jadi pendidikan apa saja, untuk anak usia dini sebaiknya dilakukan dengan bermain. Hal ini akan membuat anak enjoy melakukannya. Bahkan akan dilakukan berulang-ulang tanpa paksaan.

Bisa sambil mengenalkan profesi jika dilakukan dengan bermain peran. Suasana riang gembira akan membuat penanaman karakter lebih optimal.

6. Harus Konsisten

Kemampuan otak anak dalam mengingat masih belum sempurna. Jadi anak cenderung lupa, namun sebagai orang tua sudah seharusnya kita selalu mengingatkan. Karena karakter yang kita tanamkan diharapkan agar menjadi kebiasaan.

Jangan terlalu longgar, dan mudah memaklumi anak, harus tetap diingatkan. Karena jika iya, maka anak akan menilai kita tidak konsisten dan membuat mereka bingung.

7. Dengan Membacakan Buku serta Berkisah


Seperti halnya bermain peran mendengarkan cerita adalah hal yang sangat menyenangkan untuk anak-anak. Karena disaat itu imaginasi mereka mengembara, mengikuti kisah yang kita ceritakan.

Ketika membacakan buku atau berkisah, jangan lupa mengajak anak memetik hikmah dari cerita yang kita sampaikan. Seperti peribahasa jawa diatas, bahwa kebaikan akan menuai kebaikan, sedang kejahatan akan membuat celaka di kemudian hari.

8. Memberikan Pujian


Kata-kata manis berupa pujian merupakan sebuah apresiasi yang membahagiakan bagi anak. Jangan pelit dalam memberikan pujian, meskipun progres anak baru sedikit. Akan tetapi tidak secara berlebihan.

9. Serius Dalam Menerapkan

Serius disini adalah, tidak menganggap lucu lantas menertawakan apabila anak melakukan kesalahan. Jangan jadikan kesalahan anak sebagai bahan lelucon. Justru akan membuat anak sulit memahami apa arti sopan santun. Sebaiknya ingatkan dengan lembut jika anak berbuat kesalahan.

10. Penuh Perhatian

Anak yang kurang perhatian akan cenderung melakukan perbuatan yang dinilai kurang sopan, hanya untuk menarik perhatian orang tuanya. Jadi berikan perhatian yang cukup. Jika anak sedang butuh perhatian, maka tinggalkan kesibukan emak sejenak, lalu penuhi kebutuhan ananda.

11. Butuh Proses


Sesuai dengan kapasitas otak anak yang mempengaruhi kinerja anak. Maka rentan waktu yang dibutuhkan tidak sebentar. Sesuai dengan daya penerimaan anak. Dan masing-masing anak berbeda jangka waktunya.

Selain itu sebaiknya dilakukan bertahap agar lebih optimal pemahaman anak. Tidak serta merta diajarkan semua. Jangan bosan dalam mengingatkan. Terus berproses hingga terbentuk dengan baik.

12. Sertakan Dalam Do'a

Agar hati anak mudah diajarkan dalam kebaikan maka sangat dibutuhkan do'a orang tua yang membersamai. Do'akan agar teguh dalam perilaku sopan santun. Karena ketika sudah mulai beranjak remaja kita tidak bisa mengawasinya selama 24 jam.

Memohon agar selalu dalam perlindungan-Nya, dan mendapatkan lingkungan pergaulan yang baik.

Demikian beberapa poin penting dalam menularkan adab atau sopan santun pada anak. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat. Sampai ketemu lagi dalam sharing berikutnya. 

4 komentar:

  1. makasih mbak sharingnya, mantap..materi bagus buat mamak-mamak kayak aku ini yg masih harus banyak belajar..salam kenal ya mbak dari aku ((salah satu dari mamak keceh..halah)) hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak. Semoga bermanfaat ya, mamak keceh. 😍😍😍

      Hapus
  2. Inhale-exhale kalau ngajarin anak yaa..
    Padahal kalau sudah tau "kecenderungan" cara belajar masing-masing anak, bakalan bisa dengan mudah diterapkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup betul sekali mbak, emak kudu istingnya mainkan. 2 anak berbeda cara ngajarinya.

      Hapus