BLANTERORBITv102

    Berbuka Puasa Bukan Balas Dendam

    Senin, 06 Mei 2019
    Bismillahirrahmannirrahim  💚💚💚


    Sudah sejak 100 hari lalu saya dan mbak Vanya membicarakan kedatangan bulan Ramadhan. Menanamkan rasa rindu dan cinta terhadap bulan penuh berkah.

    Apa saja yang kami bicarakan?

    Asyiknya sahur, serunya berbuka, serta reward puasa penuh mbak Vanya. Dua tahun berturut-turut mbak Vanya sudah berhasil mengikuti puasa sehari penuh, dan konsisten satu bulan penuh. Kami juga membicarakan tentang fiqih serta adab berpuasa.

    Karena puasa yang saya kenalkan kepada mbak Vanya adalah untuk merasakan bagaimana kaum dhuafa menyelesaikan hari mereka. Dengan menahan lapar dan bersabar.

    Sebelum kita berbincang jauh tentang buka puasa, alangkah baiknya jika kita memahami keutamaan waktu berbuka puasa. Seperti hadits Rasulullah SAW berikut ini :


    Bahwasannya waktu berbuka adalah waktu-waktu dikabulkannya do'a kita. Maka dari itu kami menyiapkan do'a terbaik ketika waktunya berbuka puasa.

    Dengan demikian emak menganjurkan pada anak untuk memperbanyak do'a kepada Allah ketika tiba waktunya berbuka. Terutama agar puasa kita hari ini diterima oleh-Nya, mendapatkan keberkahan dan pahala yang berlimpah.


    Menjelang berbuka puasa emak baru mulai repot di dapur, injury time. Memang sengaja sebab, dua tahun kemarin mbak Vanya sudah puasa full day, mulai dari usia 57 bulan. Jadi setelah tidur siang, mandi dan sholat ashar.

    Waktu emak adalah bermain bersama mbak Vanya. Aktivitasnya mulai dari crafting, mewarnai, finger painting juga sains. Dengan begitu mbak Vanya terhindar dari lemas, marah-marah dan tanya kapan waktu berbuka.

    Sewaktu anak tidur siang emak biasanya preparasi buat masak di injury time menjelang dimakan. Agar aroma masakan tidak membuat mbak Vanya patah semangat. Menyiapkan bumbu, menyiangi sayur dan menyiapkan lauk untuk di marinasi. Agar nanti tinggal sreng.

    Buka puasa kami jarang makan di luar bahkan bisa dibilang menghindari itu, karena waktunya pas sholat maghrib, dan setelahnya emak mengajak anak-anak untuk shalat tarawih berjamaah.

    Untuk kali ini emak sudah menyiapkan tiga macam buku untuk amunisi anak meningkatkan kecintaan terhadap bulan penuh berkah ini yaitu :

    Ini emak siapin buat adik Aida, supaya mengenal puasa Ramadhan. Tidak berebut dengan Mbak.

    Awalnya emak cuma membelikan mbak Vanya buku Asyiknya Ramadhan, lalu adik protes, "Mama kok Adik ga dibeliin, Adik kan mau puasa juga kaya Mbak."

    Sebagai perkenalan buat dik Aida, agar bersemangat seperti mbak Vanya. Aida masih terlalu kecil untuk berpuasa. Ikut sahur dan buka puasanya saja pastinya.

    Ini untuk 30 hari berkisah sebelum berbuka puasa dan aktivitas harian jika emak tak sanggup  menyiapkan kegiatan lain.

    Buku yang ini, emak maksudkan untuk mengalihkan dari menonton televisi dan menciptakan bonding dengan anak.  Kisah seru ini akan menambahkan semangat mbak Vanya dalam mempelajari akhlaqul karimah yang terdapat dalam setiap kisahnya.

    Serta aktivitas harian bisa dikerjakan ketika nanti emak memasak. Sambil menanti berbuka, agar tidak terasa lama. Aktivitas ini akan membuat mereka bahagia dalam menjalani. Mendukung anak agar mampu bersabar dalam menanti waktu berbuka.

    Ini buat mbak Vanya, agar istiqomah puasanya, dan untuk klaim reward puasa, ada sertifikatnya juga loh.

    Emak menyampaikan kepada mbak Vanya bahwa Rasulullah SAW itu berbuka dengan memakan kurma dan meminum air putih. Namun mbak Vanya menolak.

    "Mbak Vanya ga papa kalau minum air putih, tapi ga mau kalau makan kurma, nanti mbak Vanya kabur aja." Tolaknya karena belum suka dengan rasa kurma.

    Dari awal perkenalan mbak Vanya memang tidak menyukai kurma, hanya digigit sekali lalu diletakkan kembali, dan tidak mau mencoba lagi. Begitupun dengan sari kurma, mbak Vanya tidak suka manisnya. Tapi alhamdulillah sudah mulai suka dengan madu.

    Menu buka puasa kami tidak neko-neko, hanya minuman, biasanya adalah Pocari Sweet, air putih atau teh manis, bisa juga susu. Tidak ada es buah atau sop buah. Tidak laku hanya abu Vanya n Aida yang suka, begitu pun kolak.

    Yang diminati oleh anak-anak adalah buah segar utuh, meskipun sop buah berisi beraneka ragam buah segar tetapi anak-anak tidak menyukai, es degan/kelapa muda pun, anak-anak lebih suka airnya saja tanpa kelapanya. Hihihi ...

    Jadi seperti apa menunya?

    1. Minuman (susu/teh manis/pocary sweet/air kelapa+ air putih)
    2. Buah utuh/jus buah

    Kemudian mendirikan shalat mafhrib, setelah itu kemudian melanjutkan dengan hidangan sebagai berikut :

    1. Camilan berat (cake/risol/bakwan/sosis solo/siomay)
    2. Nasi
    3. Sayur
    4. Lauk
    5. Kerupuk

    "Lalu bagaimana berbukanya?"

    Dikarenakan waktu berbuka adalah waktu mustajab untuk berdo'a. Maka harus diselipkan do'a bermunajah pada Allah, memohon agar diampuni segala dosa dan diterima pahala puasa hari itu.

    Membaca do'a, mulai mengajarkan anak-anak do'a shahih yang Rasulullah baca sebelum berbuka, seperti di atas. Menjelaskan kepada anak bahwa do'a tersebut shahih, atau disampaikan bahwa Rasulullah selalu berdo'a dengan do'a itu.

    Membaca do'a yang sudah dipelajari sebelumnya, yaitu "Allahumma laka sumtu wabika amantu wa'ala rizkika aftartu birahmatika yaa arhamarrahimin." Seperti dijelaskan dalam muslim.or.id bahwa do'a tersebut dzoif, tidak ditemukan dalam kitab hadits manapun. Maka bacaan tersebut dihukumi sama seperti ucapan do'a kita sendiri.

    Mbak Vanya kalau berbuka puasa alhamdulillah tidak berlebihan, diajari untuk tidak balas dendam. Bahwa berpuasa adalah berlatih merasakan kesusahan kaum duafa, jadi berbukapun tidak boleh berlebihan. Apalagi sekarang sudah mulai memahami bahwa Rasulullah SAW berhenti makan sebelum kenyang.

    Dan selalu antusias untuk melakukan shalat tarawih. Jadi akan lebih enak perutnya apabila tidak kekenyangan. Biasanya emak memilih tempat yang jauh dari temannya. Agar semangat shalatnya tidak kendur. Mudah dinasehati, dan alhamdulillah selalu semangat sampai akhir. Tadi malam ia bahagia setelah menyelesaikan shalat terawih hingga rakaat terakhir.

    Setelah tarawih baru boleh jajan, biasanya mbak Vanya makan malam lagi menjelang tidur malam. Hehehe ...


    Sekian cerita seputar berbuka puasa kami.

    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com

    1. Bukunya bagus nih. Boleh direview-in isinya mbak? 😁

      BalasHapus
      Balasan
      1. Ada rencana tapi belum kesampaian. Next post inshaAllah.

        Hapus
    2. Wah pinter banget mba vanya sudah belajar shaum sejak kecil...semoga istiqomah yaa

      BalasHapus
    3. Wah, awesome sharing mbak 😍 bisa jadi masukan buat saya yang sedang mendidik diri sebelum diamanahi untuk mendidik anak sendiri.hhi

      BalasHapus
      Balasan
      1. MashaAllah, jadi inget jaman dulu, lupa mendidik diri, jadi pas udah punya buntut estafet belajarnya. 😆

        Hapus
    4. Makasih gan infonya, bukunya bagus,.
      http://bit.ly/2OosbaV

      BalasHapus
    5. Banyaknya tawaran bukber pas bulan puasa tak jarang bikin kantong jadi jebol. Jika tak dikontrol, keuangan sudah pasti akan berantakan. Tapi tenang, ternyata ada loh tips cerdas untuk menyiasati banyaknya acara bukber di bulan ramadan. Saya nemuin jawabannya di artikel menarik ini: Tips Bukber Anti Boros

      BalasHapus