BLANTERORBITv102

    Emak Sebagai Agen Perubahan || NHW #9

    Jumat, 29 Maret 2019
    Bismillahirrahmanirrahim 🌻🌻🌻

    Berbicara tentang agen perubahan apa yang bisa bunda jelaskan?

    Menjadi seseorang yang menularkan suatu kebaikan kepada khalayak. Berpikir agak lama saya, ketika ditanya ingin berbuat apa terhadap lingkungan tempat tinggal.

    Saya tinggal saat ini sebagai warga baru yang sudah terbentuk secara apik segala susunan rukun warganya. Hal ini membuat saya berpikir berulang kali. Apa yang harus saya kerjakan.

    Dalam diskusi ada kalimat yang mengena, dan bergaung dalam diri saya.
    "Untuk merubah sesuatu hal, maka sayalah yang harus berubah terlebih dahulu."
    Awal mulanya dulu saya sering menghabiskan waktu momong anak bersama ibu muda yang ada di lingkungan tempat tinggal. Selain untuk berkenalan juga untuk mencegah label sombong tersemat pada diri saya. 

    Namun lama kelamaan mulai menjauh dan mengurangi, karena banyak faktor. Salah satu alasannya adalah karena bully dan perkataan yang kurang bagus jika terdengar anak. Ini faktor utama saya menarik diri dari lingkungan.

    Karena saya ingin membangun akhlak anak saya tanpa membully dan dibully. Menyiapkan dirinya kuat dengan kemampuannya bukan dengan merendahkan orang lain.

    Saya mencoba membaca keadaan dan alasan saya ada di sini.


    Mendidik anak, saya masukkan dalam kategori minat dan ketertarikan. Karena banyak seni yang bisa dipadu-padankan ketika saya mendidik anak.

    Dalam mendidik anak saya cenderung ke stimulasi. Karena saya ingin otak anak saya berkembang, banyak syaraf yang terhubung dan kelak bisa menyelesaikan masalah dengan benar.

    Saya cenderung berharap anak saya mandiri sehingga saya mensupport anak saya untuk mengenal dirinya dan fungsi masing-masing anggota tubuhnya. Sehingga bersemangat untuk belajar mengaktifkan kegunaan tubuh mereka. Walaupun ketika mereka sudah bisa tapi belum suka mengerjakan. Minimal anak saya tahu dan bisa.

    Saya sedih, ketika anak saya mendapat perlakuan bully, baik diledek maupun kekerasan verbal. Karena jika itu saya diamkan, akan mereka duplikasi dan saya sulit memperbaiki karakternya.

    Sewaktu mendengar salah seorang ibu berkata, "Di gang sini mah, anak-anak harus kuat, berani dan tahan uji, diceng-cengin ga nangis." Itu rasanya kecut, seperti menelan ludah yang asam lambung sudah naik ke kerongkongan. Buat makan juga pait.

    Korelasinya dengan akhlaq Rasulullah SAW, bukan karena saya sok suci atau sok agamis. Tapi memang demikian yang orang tua saya ajarkan dan bersumber pada hadist Rasulullah SAW, panutan umat Islam.

    Karena anak sebaiknya diajarkan adab sebelum mereka diajarkan ilmu. Jadi kesedihan saya beralasan, ditambah anak saya yang kecil terlalu sensitif dengan perkataan kasar dan sikap tidak bersahabat.

    Menambah kuat alasan saya untuk bergaul sekedarnya, tidak menggantungkan kebahagiaan anak saya dengan bermain bersama mereka. Saya harus menjadi ibu super yang bisa membuat anak selalu bahagia di dekat saya. Dengan bermain hal yang menyenangkan.

    Mulai aktif berkomunitas, bertemu dengan kawan-kawan yang sepemikiran. Dan belajar banyak.

    Salah satunya adalah bahwa anak usia 0-5 tahun belum butuh bersosialisasi. Mereka masih cukup dengan bermain bersama orang tua.

    Kecuali seperti anak pertama saya yang super duper supel. Dia harus bertemu dengan teman untuk sekedar bercanda dan beradu mulut, terkadang berantem. Hehe...

    Mulai fokus dengan mengajarkan anak kalimat toyibah, ungkapan yang islami, seperti Astaghfirullah, Innalilahi, MashaAllah. Sehingga ketika ada teman anak main, ketika pulang oleh-oleh ucapannya tidak mengecewakan. Berubah dimulai dari diri sendiri.

    Belajar untuk menanamkan tauhid kepada anak disaat mengajak anak beraktivitas. Lebih sering melakukan kegiatan dengan tadabbur Al-qur'an.

    Dalam komunitas, kami sering bertukar ide dalam membersamai anak. Dan dalam kehidupan sehari-hari saya lebih sering membersamai anak-anak. Beraktivitas bersama anak baik indoor atau outdoor.

    Berharap prilaku ini bisa menjadi pemicu ibu-ibu yang lain untuk mendampingi tumbuh kembang, mengasah bakat dan ketrampilan anak. Kedepannya semoga saya lebih fleksibel lagi dalam berbagi kegiatan dengan anak tetangga yang suka main di rumah saya. Semangaaat.



    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com

    1. numpang share ya min ^^
      bosan tidak tahu harus mengerjakan apa ^^
      daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
      F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
      ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^
      || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

      BalasHapus