BLANTERORBITv102

    Bangun Peradaban dari Rumah || NHW #3

    Jumat, 15 Februari 2019
    Bismillah...💖💖💖


        Step-step Institut Ibu Profesional dalam menggembleng mahasisiwi matrikulasinya sungguh bikin baper tingkat dewa.

        Step kali ini kita membahas bagaimana cara membangun peradaban dari dalam rumah. Menurut ibu Septi Peni Wulandani, rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantar para penghuninya kepada peran peradaban.

        "Siapkah bunda mengantar anak kita ke gerbang peradaban untuk menjalani peran yang sudah dititahkan kepadanya?"

         Siap atau tidak kita harus tetap siap merelease anak kita ke kerasnya dunia. Kejamnya prasangka dan fitnah dengan iman di dada. Seperti itulah yang tertanam dibenak saya. Sehingga anak saya harus mandiri dan juga tangguh. Filosofi emak yang demen minum kopi item.

        Ternyata siap saja tidak cukup ya guys (kaya kids jaman now). Harus dibarengi dengan pengetahuan yang komplit. Persenjataan yang full, dan mental ibu yang sesuai dengan pengertian ibu profesional di postingan kemarin.

    Baca juga : Menjadi Ibu Profesional

        Materi kali ini mengajari kita menganalisa maksud dan tujuan penciptaan diri kita, lalu keluarga. Apa yang Allah mandatkan kepada kita. Benarkah hidup hanya sekedar hidup tanpa misi penting.

        Sejatinya bagi saya ini sungguh terlambat dipahami. Jika visi yang kami rumuskan adalah sakinah mawadah warahmah, maka kita harus paham maksud dari kalimat tersebut agar, misi kita sejalan.

      Sakinah bermakna tentram, sakinah ini dapat diperoleh dengan komunikasi intim yang positif yang merupakan pilar pertama dalam pernikahan. Sedangkan mawadah adalah cinta kasih, mawadah berasal dari kata mada, jamaknya adalah maidah, artinya hidangan, saling menghidangkan. Imam mujahid mengatakan bahwa mawadah berarti jima'/romantisme seksualitas. Rahmah berarti kasih sayang, Imam Mujahid bilang ini berarti anak, sehingga harus memiliki konsep mendidik anak.

       Sakinah mawadah warahmah inilah apabila terwujud maka disebut dengan pernikahan yang penuh berkah.

        Materi sesi ini, dibagi menjadi tiga yaitu bagi yang single, menikah dan single parent mom. Pada kesemua materi dititikberatkan pada penggalian misi spesifik yang Allah titipkan bersamaan dengan kita diciptakan kita, hidup di dunia ini. Menggali potensi agar misi spesifik tersebut dapat kita jalani.


       Tugas pertama adalah menumbuhkan kembali rasa cinta. Mungkin jika Allah tidak menguji, pernikahan akan senantiasa mulus, cinta terus bersemi dan tak usah dirawat baik-baik. Namun kita hidup untuk diuji, Allah memilih yang terbaik amalnya. Akhsanu amala, dan ikhlas ketika beramal.

       Ini saya sambil termehek-mehek ya, menuliskan kembali ilmu yang diperoleh, wejangan dari Abah Lilik Riza. Dada terasa penuh, pingin menangis rasanya. Abah bilang, iman qabla adab, adab qabla ilmu, ilmu qabla amal.

       Menangis karena saya sudah yaqin menikah, dan sudah menjalani pernikahan selama 9 tahun namun pilar pernikahan baru dipelajari. Makanya tidak mempunyai visi dan misi yang tepat. Dan tidak mampu menggapai tujuan, karena alamat(ilmu) baru diperoleh sekarang.

        Untuk menumbuhkan kembali cinta yang bagai lentera tertiup angin (mobat-mabit), seolah mati, lalu menyala redup. Menurut abah, yang harus saya lakukan adalah mengaku salah, tanpa membela diri, kemudian cium tangan, peluk suami dan tuluslah.

       Jadi surat cintaku kali ini berupa ungkapan maaf lalu berterima kasih atas segala kekurangan saya yang selalu ditoleransi. Dan menuliskan beberapa hal yang membuatku bangga padanya.

      Jadi sore pas mbak Vanya berangkat TPQ, dan dek Aida masih tidur. Emak menulis surat cinta buat pujaan hati. Tulisan pertama belepotan gak jelas. Lalu emak cari kertas di agenda yang tersisa. Sudah banyak hasil krestivitas anak-anak disana. Lalu menulis ulang. Kali ini lebih sesuai dengan yang abah anjurkan. Hokya! Hokya! Hokya!

        Tiba-tiba terlintas untuk bikin surprise. Anak-anak exited pas dibilang abi kemarin ultah, ayo kita bikin surprise.

         Dibantu anak-anak selesailah surprise, tapi pas abinya pulang, mereka sudah pulas. Jadilah dinner berduaan. Aseeek. Pas serah terima surat cinta, uuuhhh.... Dia bilang apaan nih, tapi alhamdulillah dibaca. Mukanya dilempeng-lempengin, tapi aku tahu dia seneng bacanya.

     Selesai baca dia bilang, "wa'alaikumussalam." Ya Allah itu doang...hahaha, padahal udah emak ceplosin, empat kali empat sama dengan enam belas loh itu suratnya bi.

        Tapi pas suratnya lepas dari tangannya dia ambil lagi dan pagi kucari-cari ga ketemu. Disimpan sepertinya...💑💖💖💖

       Bahagia itu ternyata receh ya...kaya gini saja daku sudah seneng. Gimana kalau transferan di atm nambah. 😻🤑

      Isinya berterima kasih, karena mendampingi saya mendidik anak-anak. Selalu memberikan kejutan yang tidak ada habisnya. Selalu mau bermain, bercanda tawa bersama anak-anak. Meskipun tetap kelayapan rock n roll.

       Untuk 100% menafkahi kami, berjihad, berjuang memberikan kami tempat berteduh dan rejeki yang halal. Semoga panjang umur, senantiasa diberi kesehatan dan rejeki yang melimpah.

       Dan berterima kasih meskipun aku banyak kekurangan dan menjengkelkan, dia bertahan hingga 9 tahun pernikahan. Dan terus memberiku kesempatan untuk trial n error. Semoga dalam waktu dekat bisa berhijrah menjadi istri salihah. Biar aku dapet giliran menjadi seseorang yang membanggakan.


       Tugas kedua, melihat potensi kekuatan pada diri anak-anak.

    1. Vanya (6,5 tahun saat ini)

        Dulu awalnya emak, menyangka mbak Vanya ini hebat dalam mewarnai. Namun seiring berjalannya waktu, yang emak lihat mbak Vanya hanya senang mewarnai. Tetap emak fasilitasi dengan menyediakan banyak buku mewarnai. Menggambarkan objek, atau meminta anak untuk menggambar sendiri.


       Katanya jika itu suatu potensi, anak tidak hanya senang mengerjakan, tetapi juga hasilnya mengagumkan, dan merasa mudah. Dan itu tidak dengan mewarnai. Dia cenderung mengikuti teman, kalau teman rapi dia rapi, dan sebaliknya. Termasuk dipengaruhi mood.

    Mbak Vanya yang pake kerudung hijau

    Mbak Vanya mewarnai kaligrafi Allah

     Mbak Vanya menggambar dirinya dengan pocong warna-warni, saat mbak berusia 5 tahun
    Pengenalan huruf H untuk Hujan, sembari belajar do'a ketika turun hujan dan membentuk huruf H,h, dengan Rainbow Loom

    Pengenalan huruf S, sambil belajar mengikat tali sepatu. Mainan kardus hasil DIY emak, nyontek dari Pinterest.

    Stimulasi dengan mainan dough, membuat bentuk kaki seribu sambil mengenal nama binatang.

       Yang menonjol dalam Mbak Vanya adalah aktifitas motorik kasarnya. Misal wall climbing, dia tidak takut dan merasa mudah. Cepat sekali sampai atas wall. Video ada di Instagram, sudah terhapus dari memori hape, belum sempat save ke youtube.


      Selain itu mbak Vanya juga suka bercerita. Suka ngevlog, dan apa yang dia ucapkan mengalir begitu saja tanpa emak ajari. Emak ingin mensupportnya dengan menceritakan banyak kisah. Hingga kelak dia bisa menjadi pendongeng, ketika dia mulai bisa menceritakan ulang. Agar lebih terasah jika memang ini adalah bakatnya dia.


       Alhamdulillah, mbak Vanya meskipun termasuk anak yang tidak bisa diam, tapi pernah terpilih untuk lomba cerdas cermat tingkat TK, juara 1 dengan skor terakhir jauh memimpin 1400 untuk regu Vanya, 600 dan 400 untuk regu lain.

    MashaAllah, Tabarakallah...piala juara 1 lomba cerdas cermat

    Vanya, Zahra, Askia, Video ada di yutube. Hihihi

       Pas awal emak sempat pesimis. Karena mbak Vanya susah sekali kalau diajari membaca. Emak kalang-kabut. Ternyata pas masuk usia 6 tahun, mbak menunjukkan ketertarikannya untuk baca. Sekarang sudah bisa baca buku cerita, meskipun lambat. Tapi mama senang, karena mbak Vanya bisa menceritakan apa yang sudah dibacanya. Tidak sekedar selesai membaca.

      Secara sensorik dan motorik mbak Vanya ternyata masih ada yang belum tuntas. Yaitu clumsy atau ceroboh, alhamdulillah kemarin ada kulwap dengan Bunda Sri founder Hayat School yang berada di Bandung.
    Juara 1, lomba lompat simpai, di Gebyar TK 2019

      Emak sempat bertanya, dan menurut analisis beliau. Memang ada yang belum tuntas. Bisa diperbaiki dengan mengajarkan mbak Vanya tahapan cara memakai baju, dan juga cara mengambil air minum, ajarkan urutannya dan stimulasi terus.

       Alhamdulillah, benar kata peribahasa, malu bertanya sesat di jalan. Bertanyalah pada ahlinya. Tetap sceptical thingking dimanapun anda berada.

    2. Aida (3 Tahun 3 bulan, saat ini)

        Dek Aida ini motorik halusnya lebih cepat terasah. Kalau mewarnai cenderung lebih bagus jika dibandingkan dengan mbak Vanya ketika seusia adik.
    Memindahkan kacang hijau dengan sendok ke wadah yang sama, dari kiri ke kanan.

       Kalau diajak main game, seperti pakai baju pake tangan apa dulu, masuk kamar mandi kaki yang mana dulu. Dik Aida cenderung lebih dapat point banyak dibandingkan mbak Vanya. Lebih teliti, dan mbak memang cerobohnya harus distimulasi lagi. Masih belum terlambat banget mengingat banyak prestasi yang dia miliki. No body is perfect.
    Sortasi warna, memasukkan paper klip ke wadah yang sama warnanya
    Aktifitas kegemaran aida, menggunting

    Finger painting, punya adik dibantu emak.

        Dik Aida masih belum berani gowes sepeda roda empat. Karena rodanya miring sebelah. Kalau mbak lebih berani. Tapi kalo berenang adik aida yang tak kenal takut. Asal nyebur aja. Dilepas kelelep juga masih berani mencoba.

       Dik Aida ini konsentrasinya lebih bagus, sewaktu diberi tantangan memindahkan cairan dari wadah ke botol dengan corong. Lalu menggunakan gayung kecil. Hampir tidak ada yang menetes diluar botol. Dan ketika bermain dengan pisau dapur emaknya. Practical life skill, mengiris keju, sosis, tangannya sudah lihai dan belum pernah pisaunya melukai tangannya. 👍

       Ketika berbicara dan menghafal do'a juga sudah jelas. Perbendaharaan katanya sudah melimpah ruah. Bahasanya udah kaya emaknya, pernah emak dibilang, " Mama menggelikan".

       Bisa berbicara dua kalimat yang disambung, sudah mengerti jika dimintai tolong. Dan anaknya suka membantu.
    Ini aktifitas Aida yang siapin sendiri. Mulai dari nyari cobek dan ulekan. Serta kulit telur yang sengaja mama umpetin. Ini bisa untuk pupuk loh setelah diuleg Aida

    Raknya terjangkau oleh Aida. Biasanya dia pilih sendiri kegiatannya. Tapi masih belum dikembalikan lagi kalau sudah selesai

    Ada kalanya Aida yang berkisah sebelum tidur, dengan membaca gambar buku cerita, dengan bahasa Aida.

        For your information, ketika belum bisa mengungkapkan perasaan, alias ngomongnya belum lancar. Baik adik maupun embak. Sama-sama demen gigit temannya. Qodarullah sama, dan emak jadi ajang omelan ibu-ibu komplek. 👰💇👼

       Yang menonjol dari Aida, emak belum tahu pasti. Aida ini sensitif, dan nangisan. Jika ditegur langsung nangis. Diledek juga iya. Kalau mbak Vanya ekspresinya bukan nangis tapi marah-marah. Duh gusti, yang salah itu bagian mana? kalau anak pemarah dan nagisan.
    Kaya ginilah Aida kalau diayun. Ketawa lepas

       Kalau manjat, perosotan, ayunan. Emak sudah tinggal mengawasi sejak aida berumur 2 tahun. Kedua anakku itu aktif, dari umur 2 bulan sudah tengkurep. Mereka jalan diumur 11 bulan. Emak dampingi dan arahkan dengan baik juga sewaktu merangkak. Secara proses inshaAllah sudah dijalani sebaik-baiknya. Untuk hasil, Allah yang menentukan.

       Untuk Aida ini emak musti tebal kuping. Karena Aida sangat susah naik berat badan. Sejak berumur 2 bulan sudah berkonsultasi dengan ahli gizi, namun Aida tetep badannya ga berisi.

        Ketika kita sudah ikhlas menerima hasil yang Allah berikan dengan upaya sebaik-baiknya. Lalu mendengar komentar mereka yang tidak mengetahui prosesnya. Kalau tidak tebal kuping, bisa beralih tidak menyukuri banyak nikmat yang lain. Fokus meratapi adik yang beratnya kurang dan lupa stimulasi yang lainnya.

        Aida ini sudah lulus toilet training sejak usia 18 bulan. Sudah tidak pake diapers, tidak pernah ngompol.

    Baca juga : Toilet Training?! Antara Tips dan Implementasinya

        Tugas Ketiga, menggali potensi diri, apa mandat Allah terhadap diri, sehingga dipertemukan dengan Kakang Prabu, dan dititipi anak-anak hebat.

       Sejauh kaki memandang kok kaki, mata, saya ini banyak kekurangan daripada kelebihan. Saya bisa jahit, tapi tidak seberapa. Saya bisa menulis tapi tidak seberapa. Lalu saya memasak juga mengerti caranya namun tidak expert.

      Tidak ada yang istimewa dan spesial, menurut saya. Timbunan kekecewaan dan kesedihan merubah pribadi saya yang dulunya rajin jadi makin menurun kualitasnya.

      Kok saya dapat suaminya yang tidak mau mengerti bagaimana saya. Dan melarang apa-apa yang saya senangi. Apakah yang Allah kehendaki dari saya dengan kondisi semacam ini.

       Masih ditambah dengan wiring, saya ini cuma sekali dipukul ibu, waktu sholat bercanda. Dan sekali ditendang bapak waktu adik menangis. Saya merasa sudah memaafkan mereka.

      Namun ternyata dugaan saya salah, perlakuan bapak dan simbah yang lebih sayang ke adik. Luka hati itu masih tersimpan. Mungkin dalam hati saya terpatri begini. "Bapak dan alm mbah putri itu lebih sayang ke adik. Kalau sama saya ingatnya nyuruh kerjain ini-itu. Sedang kalau punya jajan yang diingat adik saya."

      Sekarang ini saya kalau kata orang, lebih cenderung ke Aida daripada ke mbak Vanya. Dan ini harus diputus mata rantainya. Sepertinya saya juga sudah menanamkan hal yang sama terhadap anak saya. Hiks...

       Dan saya juga sempat dititipkan ke saudara, disana kesalahan adik, ibu dan bapak. Semua dibebankan kepada saya. Umpatan mereka, saya pikir, saya sudah memaafkannya. Ternyata tidak, itu mempengaruhi bagaimana saya menumpahkan kekesalan. Oh noo....

       Abah Lilik Riza mengatakan bahwa saya harus mengampuni mereka, memaafkan kesalahan yang mereka perbuat padaku. Mendo'akan yang terbaik kepada mereka. Menyadari bahwa, kemungkinan ayah atau saudara atau nenek, pernah mengalami hal yang sama dan tidak tahu cara memutuskan mata rantainya.

      Semoga dengan ditulis disini menjadi jalan bagi saya melepas kenangan buruk itu. Memanggil Sukma Meganingrum kecil, untuk menghapus kenangan itu dengan mengampuni dan mendo'akan mereka.

       Begitu juga dengan materi dari IIP dan jawaban pertanyaan dari mbak Fara Noor Azizah, sekelumit tentang inner child yang harus dibenahi.

       Jika dikaitkan dengan harapan suami dan anak-anak. Maka mandat saya dalam keluarga ini adalah harus segera memantaskan diri menjadi Ibu Profesional, yang membangun peradaban dalam keluarga.

       Harus meningkatkan kemampuan dalam mendidik anak, tarbiyatul aulad, sebagai pendidik yang pertama dan utama.

       Serta mengikhlaskan segala hal yang diinginkan suami sebagai bentuk ketaatan kita terhadab Rabb kita. 😘😘😘

        Semoga kelak ketika sudah menjadi Ibu Profesional, dijinkan untuk menjalankan hobby sebagai sarana me time. Karena ibu yang bahagia dapat mencetak anak-anak yang bahagia, Right?!

     
       Tugas keempat, lingkungan tempat tinggal. Mandat Allah bagi saya ditempatkan dalam lingkungan ini.

    Bagi saya tinggal disini, membuat saya berpikir bahwa saya harus mengambil ilmu dari mereka. Karena semuanya sudah senior dalam hal menjadi orang tua. Jatah saya memperbaiki diri dan menimba ilmu.

    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com

    1. kece badai ih mak satu ini.. Barakallah ya mak.. 😊

      BalasHapus
      Balasan
      1. Punya Mbak Dyah juga keceh badai kulihat. Selalu lebih dulu postingnya ketimbang awak.

        Hapus
    2. numpang share ya min ^^
      bosan tidak tahu harus mengerjakan apa ^^
      daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
      F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
      ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^
      || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

      BalasHapus