Jumat, 15 Desember 2017

,

Toilet Training?! Antara Tips & Implementasi


Bismillahir-rahmannir-rahim
Disunting: 5 Oktober 2021

Hai Bunda, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dengan saksama. Kali ini aku sengaja akan berbagi curahan hati saat menjalankan toilet training.

Beberapa bulan lalu Dek Aida lulus toilet trainingAlhamdulillah ala kuli hal. Ini merupakan pencapaian yang besar antara ibu dan anak. Begitu terasa perjuangannya, dan ketika akhirnya berhasil rasa bahagianya tak terkira.

Sesuai dengan pilihan judul, dalam kisah ini aku akan menguji efektif apa tidak sih tips-tips yang ada di internet. Mari kita implementasikan tips yang sudah kudapatkan. Benarkah efektif?

Silakan disimak ... 

Umumnya, anak akan menunjukkan kesiapan menjalani toilet training pada saat berusia satu tahun enam bulan, tetapi kebanyakan anak siap memulainya pada saat berusia satu tahun sepuluh bulan hingga dua tahun enam bulan.

Dari informasi di atas, alhamdulillah bahwa anakku sudah masuk dalam rentang usia yang tepat. Meski ternyata aku salah hitung, Dek Aida baru berusia tujuh belas bulan alias satu tahun lima bulan. Kepalang tanggung karena tahu hitungannya salah setelah lulus toilet training. Artinya usia tersebut setelah diimplementasikan terceklis sempurna. 

Waktu itu kami baru tiba di tempat tinggal sendiri setelah dua tahun berada di rumah mertua dan juga orang tua sendiri. Sebab kehamilanku agak rewel, sehingga memilih tinggal di kampung agar ada yang membantu merawat Vanya. 

Pengalaman anak pertama yang terlambat sebab terlaku sering bolak-balik ke kampung. Alasan utamanya tak enak mengotori rumaah orang tua yang seharusnya sudah terlepas dari urusan najis.

Berbekal dari itu aku tak mau anak kedua ini terlambat lagi. Beruntung, saat ini masih teringat usia tepat untuk memulainya.

Sebelum memulai ada satu tips wajib bin wahid, persiapkan hati bulatkan tekad. Pastikan kondisi Ibu dalam keadaan sehat untuk mengajari toilet training

Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa anak menunjukkan kesiapan secara fisik dan emosional.
Tanda-tanda untuk mengetahui kesiapan fisik anak adalah :

  • Anak memperlihatkan ekspresi saat menahan BAK atau BAB.
  • Popok kering saat bangun tidur atau setelah dua jam pemakaian.
  • Tidak BAB di popok saat malam hari.
  • BAB terjadi pada waktu yang sama tiap harinya atau pada waktu yang tidak bisa diprediksi.
  • Anak mampu melepas dan memakai pakaian serta mampu berkomunikasi dengan Bunda tentang pemakaian toilet.
Berbeda dengan kesiapan fisik, kesiapan secara emosional butuh waktu yang lama. Berikut ini adalah tanda-tanda anak sudah mencapai kesiapan emosional.

  • Anak akan memberitahu ketika diapers-nya kotor dan meminta untuk diganti dengan yang baru.
  • Dia lebih memilih memakai celana dalam ketimbang popok.
  • Menunjukkan ketertarikannya ketika Bunda memakai kamar mandi.
  • Memberitahu Bunda ketika dia ingin pipis.
  • Bersemangat mengikuti semua proses toilet training.
Kali ini aku mencoba menguji tips yang ada. Mencoba menerapkan. Minggu pertama aku berniat mengenalkan dengan toilet. 
Kalau siang hari Dek Aida tidak memakai diapers. Langkah awalnya,  satu jam sehabis mandi kuajak Adek untuk pipis. 
Sambil digandeng tangannya, "Yuk dek, kita pipis di toilet." 
Langsung berhasil buang air kecil?  Jawabnya tidak.
 "Oh, ternyata adik belum mau pipis ya? nanti kalo mau pipis  bilang ya. Pipis harus di kamar mandi." Dek Aida hanya mengangguk.
Selang dua jam aku mengajak hal serupa. Awal-awal dia masih suka buang air kecil di celana, maklum sebelumnya ia terbiasa langsung BAK/BAB pada popok sekali pakainya.
Itu sebabnya kukatakan agar menyiapkan tekat, dan memastikan diri sedang dalam keadaan sehat. Supaya tidak tersulut emosi saat harus berkali-kali mengepel lantai. Serta cucian yang bertambah banyak.
Setelah kencing di celana, selang dua jam diajak ke kamar mandi meski lagi asyik bermain. Digendong, sambil mengucapkan kalimat yang sudah kusebut di atas. Setelah seminggu baru menunjukkan hasil.
"Mama pipis" ucapnya terburu-buru. 
Seperti kran bocor, air seni sudah lolos merembes hingga ke lantai. Tak apalah dia sudah mampu mengucapkan. Langsung kuajak ke toilet, sambil kembali di-sounding
"Kalau pipis di sini ya, celananya dicopot dulu. Pipis di celana bau. Ihh bau."
Menurut saya kegiatan toilet training anak kedua ini lebih mudah. Karena dia punya role model kakaknya sendiri. Setiap hendak BAK, berpamitan kemudian lari ke toilet. Lebih mudah bagi Dek Aida ketika meniru apa yang Mbak Vanya kerjakan. 
Minggu berikutnya, Adek sudah mulai mengerti, dan mencoba menahan BAK sebelum sampe toilet. Kiajari juga BAB di kamar mandi. BAB lebih dulu berhasil, karena Dek Aida suka kentut yang berbau sebagai tanda ingin BAB. 
Jadi aku sudah paham. Tinggal mengarahkan cara menggunakan kloset jongkok yang aman, dan memudahkan Dek Aida saat melakukannya.
Memegangi tangan Dek Aida, dan mengatur pijakan kakinya agar aman. Memastikan bahwa cara itu tidak akan membuatnya tergelincir dan takut mencoba. Memberi tahu Dek Aida nama dari aktivitas yang dilakukannya. 
Namun yang terjadi sekarang, mau BAB ataupun BAK yang Dek Aida ucapkan,  "Aak Ma aak."
Ora papa itu masih wajar, yang penting bisa ke toilet. Waktu itu usia Dik Aida tujuh belas bulan.
Minggu selanjutnya kucoba ketika malam pun tidak memakai diapers, tipsnya sebelum tidur diajak pipis sekalian gosok gigi. Sama seperti Mbak Vanya, dan Abi. Malam pertama sudah berhasil. Berlanjut lagi malam-malam berikutnya. Di hari berikutnya Dek Aida malah bangun tengah malam karena pingin BAK. Ooohhhh ... so sweet banget sih.

Jadi sudah dipastikan Dek Aida bebas diaper dari saat itu. Baik di rumah atau saat bepergian. 

Tips lagi ya, jika masih belum yakin anak akan mampu menahan kencing sampai menemukan toilet terdekat. Bawalah popok sekali pakai. Gunakan saat benar-benar terdesak. Minta anak untuk BAK di diaper setelahnya dicopot lagi.


Bagiku, dan Dek Aida tips di atas efektif.  Dek Aida mulai toilet training dari 18 Maret - 28 April 2017. Sebulan lewat sepuluh hari. Dan lulus TT di usia, 18 bulan lebih 3 hari. 

Jadi tipsnya apa aja nih?  Silahkan disimak tipsnya 

  • Kenalkan anak kegunaan toilet. 
  • Pilih pispot yang sesuai (kalau aku langsung ke klosetnya). 
  • Ajak anak saat Anda beraktivitas di toilet. 
  • Sounding terus, bahwa BAK dan BAB harus di toilet. 
  • Pastikan suasana hati sedang baik dan kondisi tubuh Ibu dalam keadaan prima. 

Semangat mencoba, dengan tips yang sama, dalam implementasi selalu berbeda cerita. Utamanya jangan lupa ajari anak membersihkan alat kelamin, mengguyur bekas BAK atau BABnya. Tidak lupa juga ajari anak membersihkan tangan dengan sabun ya. Agar selalu bersih.

Ah iya, ada hal yang terlupa dari kisah toilet training Dek Aida. Aku menyelipkan pelajaran adab. Mengucapkan doa masuk dan keluar, mengajaknya masuk dengan kaki kanan, membasuh kemaluan dengan tangan kiri, membersihkan tangan dari najis, mengguyur najis hingga bersih dan suci. Teladan dan ucapan yang berulang, hingga menjadi kebiasaan yang sulit dilupakan. 

Referensi:
Anak Anda Sudah Siap diberikan Toilet Training?
http://www.alodokter.com/anak-anda-sudah-siap-diberikan-toilet-training

0 comments:

Posting Komentar