Terapi Memaafkan Demi Kesehatan Mental

Terapi Memaafkan Demi Kesehatan Mental

Bagi sebagian orang memaafkan bisa menjadi perkara yang sulit. Sebab sebagian merasa bahwasannya yang membutuhkan kata maaf adalah orang yang bersalah terhadap kita. Merekalah yang berhutang maaf sehingga kita akan menunggu mereka berupaya agar layak dimaafkan. Padahal sejatinya terapi memaafkan demi kesehatan mental diri kita masing-masing.

Teman, kita memang butuh berkontemplasi mengenai siapa sih yang sebetulnya paling membutuhkan kata maaf? Mulai bertanya pada diri:

"Seberapa mudah aku memaafkan?"

Ada beragam jawaban mulai dari mudah, sulit, tergantung case, sangat sulit, hingga ada juga yang bilang aku tak bisa memaafkan sebab itu terlalu menyakitkan.

"Ada nggak kejadian atau momen yang susah dimaafkan?"

Begitu pula dengan pertanyaan kedua, alangkah baiknya jika tidak ada hal yang sulit, semuanya mudah dimaafkan. Namun, kejujuran akan apa yang diri kita rasakan menjadi kunci utama dalam terapi memaafkan. Bagiku jawaban yang kuberikan adalah ada, tidak hanya satu.

Kalian tentu tahu Teman, bahwa akan menjadi BIG MONSTER, saat diri kita memanipulasi rasa dan pikiran. Berkata, "aku baik-baik saja kok." Akan tetapi hatiku uring-uringan. Kita tidak sadar bahwa ada sesuatu yang belum di-release.

Jangan-jangan kita selama ini belum sabar hanya memendam sampai pada suatu ketika bisa mencelakakan kita. Akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapanpun. 

Apa Sih Terapi Memaafkan Itu?


Menurut Karel Mark memaafkan adalah suatu tindakan melepaskan emosi negatif ke positif. Tindakan itu dilakukan baik dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar. Memaafkan memiliki arti menerima kondisi yang telah terjadi dengan tidak memberikan beban pada diri sendiri, keluarga, dan personal. 

Terapi memaafkan bisa diartikan melepaskan tekanan psikologi dengan membuat diri kita menerima keadaan. Memaafkan bisa menjadi terapi psikologi yang efektif bila dilakukan dengan benar.

Memaafkan VS Melupakan


Terapi Memaafkan

Memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Sering kali kita menemui ungkapan seseorang, "aku sudah memaafkan tapi aku tak bisa melupakan."

Memaafkan adalah skill atau kemampuan melepas emosi negatif dalam otak kita. Melepaskan somatic mind, melepaskan bara api agar tidak terjadi kebocoran energi dan produksi racun kita berkurang. 

Sedangkan melupakan atau lupa adalah kondisi, kita bisa lupa suatu kejadian atau seseorang bila terjadi gergar otak, yang menyebabkan amnesia. Sejatinya setiap manusia menyimpan semua memori, tidak mungkin kita melupakan jika tidak dalam kondisi amnesia.

Meski terkadang kenangan yang berkesan cenderung lebih mudah diingat. Sedang hal-hal yang remeh, kenangan itu meski menetap namun berada di dasar memori sehingga kita merasa, "kok aku sudah lupa ya."

Orang yang memiliki sesuatu yang mengganjal, tidak tahu lelahnya kenapa. Itu terjadi sebab banyaknya somatic mind yang mengendap. Sepertinya aku juga sering merasakan hal itu, lelah meski tak banyak beraktivitas. Kadang ada rasa dendam, ingin melihat karma atas perbuatan buruk seseorang.

Sangat lelah menanti seseorang berubah agar kita bisa memaafkan sepenuhnya. Merasa bahwa orang itu harus mendapat balasan setimpal. Jika tak kunjung ada balasan, menjadi semakin menderita, sakit hati, hingga kebas. Tak mampu lagi merasakan, hampa saja. Fokus kita terhenti pada hal menyakitkan sehingga tak bisa merasa bahagia meski diberi nikmat oleh-Nya.

Betapa akan menjadi ringan, jika beban itu terlepas.

Memaafkan itu untuk Siapa? 

 

Memaafkan Untuk Diri Sendiri

"Enak dong kalau belum apa-apa sudah dimaafkan. Mereka untung kita yang rugi."

Begitulah ungkapan yang sering kita dengar bahkan mungkin kita ucapkan. Diri kita merasa bahwa akan rugi jika memaafkan tanpa syarat. Padahal memaafkan adalah skill yang harus kita miliki, seharusnya kita asah.

Kemampuan memaafkan sudah terinstal dalam diri kita semenjak lahir. Namun pikiran dan hati sering membuatnya lebih susah melepaskan emosi negatif. Anak-anak cenderung mudah memaafkan, kemampuan memaafkan belum termanipulasi oleh pikiran dan perasaan.

Pikiran dan perasaan kita yang membuat judging, menyebabkan kita enggan memaafkan sebab merasa dirugikan. Hal ini akan menciptakan banyak sekali somatic mind. Kita akan mengatakan, "oke! akan aku maafkan tapi kamu harus benar-benar berubah."

Padahal memaafkan dan  berubah adalah sesuatu yang berbeda. Kita harus sepakat terlebih dahulu, bahwa memaafkan adalah kebutuhan diri sendiri. Demi kesehatan mental kita, untuk membuang emosi negatif yang membebani diri kita sendiri. Menyelamatkan diri sendiri dari kebocoran energi.

Jika tidak kita tambal kebocoran energi itu maka akan terbentuk gangguan psikosomatis yaitu penyakit psikis. Penyakit lambung tidak lebih dari 20%, sisanya kita memiliki somatic mind. Terlalu banyak cemas, memendam benci membuat imunitas tubuh kita depresi selama enam jam. It's not about them!

Merawat Benih Kebaikan

Fitrah belajar, fitrah iman, fitrah minat bakat, fitrah mudah memaafkan dan fitrah lainnya. Selama ini yang kita pupuk  benih memaafkan atau bibit somatic mind. Allah Maha Memaafkan, kita diinjek benih memaafkan. Instalan asli kita adalah instalan pada balita. Di mana mereka kadang kita marahi, tetapi anak kitalah yang meminta maaf.

Memaafkan itu relasi atau hubungan antara diri kita dengan pikiran kita. Bagaimana diri kita bisa memaafkan jika pikiran kita mengambil kendali. Pikiran kita memunculkan berbagai anggapan.

“Dia yang salah kok aku yang harus memaafkan lebih dulu, tunggu dia minta maaf dong.”

“Sakit banget dimaki seperti itu, padahal aku nggak kayak gitu loh!”

“Kata-kata dan sikapnya sudah tidak bisa kutoleransi, aku sakit hati banget.”

“Dia bawa-bawa orang tuaku, keterlaluan sekali.”

Banyak sekali produk dari pikiran kita yang membuat kita tak bisa dengan mudah memaafkan. Kita sendiri yang membuat sekat-sekat penghalang. Untuk itu perlu sekali merawat benih kebaikan.

Kunci untuk merawat benih kebaikan adalah dengan memperbanyak mention Allah, mengagungkan Allah. Menyadari bahwa kita wayang, Allah berkehendak orang tersebut hadir dalam hidup kita (iradah). Tentunya kita membutuhkan kunci yang tepat untuk melakukan terapi memaafkan.

Aspek Memaafkan

  1. Tidak ada lagi keinginan balas dendam.
  2. Tidak ada lagi menjaga jarak. 
  3. Keinginan untuk berdamai dengan peristiwa/orang tersebut

Ketiga aspek ini menjadi indikator apakah kita sudah berhasil memaafkan atau belum. Jika kita memaafkan hati menjadi plong, sudah tidak ada lagi keinginan untuk membalas dendam. Kita tidak akan merasa sakit hati lagi ketika berpapasan, menyebut namanya, atau bahkan mengetahui bahwa orang tersebut memiliki kesuksesan. Keinginan untuk berdamai dengan peristiwa itu merupakan signal bahwa diri kita berhasil melakukan terapi memaafkan.

Agar Lebih Mudah Memaafkan 

  1.  Diri kita tidak sepenuhnya benar, orang lain tidak sepenuhnya salah.
  2. Menyadari dan menerima rasa yang hadir.
  3. Buat relasi dengan pikiran dan perasaan kita bukan tentang orang lain

Hidup ini tentang persepsi, produk pikiran itu senang sekali menghakimi. Kita harus memberi nama pada rasa yang hadir seperti sedih, sebel, marah, kecewa, tersinggung dan lain sebagainya. Lalu menerima perasaan yang hadir. Tidak perlu berusaha menutupi seperti, "aku baik-baik saja." Namun, ternyata hati uring-uringan, itu membuat kita tidak sadar bahwa ada sesuatu yang belum dilepaskan. 

It's okay to not be okay!  Sabar itu tidak ada batasnya tetapi ada tempatnya. Jangan-jangan yang terjadi selama ini kita belum sabar hanya memendam sampai pada waktunya tiba bisa mencelakakan kita. Bagaimana kita memaafkan kalau kita tidak menyadari kalau kita tersinggung.

Sibukkan diri dengan penerimaan rasa, semakin membuat kita lentur. Indikasi perubahannya ada di hati kita bukan di lisan. Relasi antara kita dan pikir kita akan melenturkan jalan pikiran kita. Memaafkan tidak akan mengubah masa lalu tetapi melapangkan masa depan. Memaafkan belum tentu mengubah orang lain, tetapi menyelamatkan batin kita.

Sampai di sini dulu ya perbincangan kita mengenai terapi memaafkan demi kesehatan mental. Kapan-kapan  aku juga ingin berbagi cerita tentang self healing dengan butterfly hug. Semoga masih ada umur untuk kembali bertutur dengan Teman-teman. Yuk curhat hal apa yang paling ingin kamu maafkan baik tentang seseorang ataupun peristiwa yang ada dalam hidupmu? tulis di kolom kometar ya!



Sukma (lantanaungu.com)
Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email Kerja Sama: sukmameganingrum@gmail.com

Related Posts

23 komentar

  1. Saat ini hanya fokus menerima keadaan sempit di tengah orang yh jelas" tidak sayang dengan kita mba. Berusaha memaafkan dengan perbuatan mereka yg sengajq menyakiti anggota keluargaku bahkan diri sendiri. Sambil menanti kapan waktu yang tepat Allah ijinkan utk hidup mandiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat Kak, yuk kita install peranfkat memaafkan ini. Supaya lebih lega dalam menjalani ujian. Orang yang hadir memang ditunjuk Allah untuk kira eksekusi sebagai pahala.

      Semoga Allah mudahkan. Aamiin

      Hapus
  2. Saya itu sangat gensi untuk minta maaf duluan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak apa Kak, hal ini justru membuat diri sendiri jadi mudah memaafkan, seharusnya. Kan jadi berpikir kalau kita aja malu untuk minta maaf, jadi maafin ajalah kesalahan orang lain. Btw ada yang bilang Allah baru akan memaafkan kesalahan kita terhadap orang lain jika orang yang kita sakiti memaafkan. Jadi baiknya yuuk kita jangan gengsian.

      Hapus
  3. Pas mau Ramadan baca artikel bermanfaat ini, Terpai Memaafkan Demi Kesehatan Mental'
    Terima kasih sudah diingatkan dalam ulasan panjang yang bikin jleb saya.
    Sulit memafkan memang ya, tapi bisa. Saya pernah dalam posisi berat sekali memafkan Ibu Mertua, karena banyak hal...Dengan berjalannya waktu akhirnya bisa dan Alhamdulillah beberapa tahun lalu hubungan kami makin membaik hingga saat Beliau berpulang November lalu. tak ada lagi ketegangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah ... Menerima rasa yang hadir memang tidak semua orang bisa Mbak. Kalau sudah bisa menerima akan mudah memaafkan. Mbak Kereeen.

      Hapus
  4. Selalu berusaha mengingat ingat bahwa Nabi suka sekali meminta maaf (walau bukan kesalahannya atau terjadi karena kesalahpahaman ) dan memberi maaf pada orang yang bersalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah betul Kak, teladan kita melakukannya. Takada alasan untuk tak mencoba.

      Hapus
  5. Terapi memaafkan ini befmanfaat sekali ya demi kesehatan mental semoga setelah memaafkan bisa jg untuk melupakan masa kelam tersebut ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memaafkan dan melupakan hal yang berbeda. Kita akan terus mengingatnya, bedanya kalau betul-betul memaafkan kita tak akan merasa sakit lagi ketika mengenang peristiwa atau seseorang itu.

      Hapus
  6. Memaafkan itu sama seperti me-nol-kan diri dan peristiwa, hingga kita dengan tenang bisa memulai senyuman dan sapaan tanpa tegang sambil berkata "kita mulai dari nol ya"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti itu Bun, jika masih ada rasa sesak itu artinya kita belum ikhlas memaafkan peristiwa itu.

      Hapus
  7. Memaafkan berarti tidak lagi ada jarak. Oo kadang pernah dengar aku sudah maafkan tapi aku gak mau berkomunikasi lagi dengannya. Berarti itu belum memafkan kah kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, indikasinya begitu. Jadi hanya lisannya aja yang bilang maaf, sedangkan hatinya tak rela.

      Hapus
  8. Memang sulit bagi saya sendiri bisa memaafkan itu. Tapi kembali ke ketenangan dan kemenangan diri, secara dimaafkan atau tidak kondisi kita gak akan bisa diubahnya. Lebih baik berusaha mengikhlaskan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak. Memaafkan adalah cara sederhana kita untuk menyelamatkan diri kita. Bukan tentang orang lain.

      Hapus
  9. ya Allah mba baca ini rasanya kayak dibangunin, selama ini jadi bertanya ke diri sendiri apakahs aya sudah memaafkan diri saya sendiri ya Allah, semoga mental kita semua sehat selalu ya mba

    BalasHapus
  10. selama ini ada yang bilang memaafkan tapi tak bisa melupakan, artinya itu belum bisa dikatakan memaafkan lah ya kak...

    Aku sangat setuju dengan point di atas yang bilang kalau diri kita tak selamanya benar dan orang juga tak selalu salah. Biasanya aku sih lebih suka ke masa bodoh amat. Kalau ada rasa dendam, rasanya sakit di diri sendiri.

    Tapi terapi memaafkan ini emang perlu sih.

    BalasHapus
  11. Saya juga pernah mengalami 'memaafkan tapi tidak melupakan'.
    Bukannya gak mau melupakan, tapi susah aja gitu.
    Terkadang ketemu lagi sama kasus yang sama, kan pasti ingat lagi, "eh aku dulu juga pernah mengalami kejadian kayak gini, rasanya sakit hati".

    BalasHapus
  12. Orang bilang memaafkan itu enggak mudah. Saya orangnya memang mudah tersinggung, mudah terluka gitulah. Kalau soal memaafkan ini mudah banget bagi saya, karena kalau kita memaafkan orang lain itu rasanya lapang gimana. Namun apa pun yang lebih dari itu pertama sekali adalah memaafkan diri sendiri. Setelah itu orang lain. Padahal hanya kata-kata ya kan. Heheh …. Alhamdulillah sekarang sudah mudah kok mengatakan maaf.

    BalasHapus
  13. Perihal menjaga jarak ini yang belum terlaksana bagi saya, maksudnya sih nggak yang menjaga jarak karena menghindar, memang biar tidak ada di pandangan saja biar jadi proses memaafkan lebih mudah dan lebih jernih, jadi ketika kelak bertemu sudah tidak takut, menghindar, atau timbul amarah dalam diri

    BalasHapus
  14. Rela dan maaf itu tak semudah kata kita mengucapkannya emang mba. Hehehe. Berbahagialah orang yang bisa merelakan dan memaafkan tidak hanya dari ucapan, tetapi juga hatinya.

    BalasHapus
  15. Trik memaafkan diri sendiri itu semacam muhasabah pribadi ya, berani nggak menerima kenyataan seperti ini apa tidak? Perlu banget ini dilakukan

    BalasHapus

Posting Komentar