BLANTERORBITv102

    Perisai Do'a Terindah [Puisi Esai]

    Sabtu, 28 Juli 2018


    /1/
    TKW bermasalah; 1,5 tahun bekerja sudah dipulangkan
    Begitulah yang terucap dari bibirku
    Sepanjang lorong bandara Soekarno-Hatta
    Warta bagi para calo¹
    Algojo yang tak kenal ampun
    Siap melahap habis gaji TKI

    Mereka pun percaya
    Dilihatnya aku yang kurus dan pucat pasi
    Bagaimana tidak
    Setengah bulan ini, aku bergelut dengan maut
    Berjuang bersama konsuler kedutaan Indonesia²
    Aku lolos dari tuntutan pidana mati

    Namaku Sutarmi,  Ami begitu mereka memanggilku
    Aku masih bergidik
    Mengingat proses peradilanku
    Syukur masih kulantunkan hingga kini
    Dengan kuasaNya
    Bahasa yang baru kumengerti
    Meloloskanku dari maut


    Lantang suaraku membela diri
    Aku memang tak bersalah
    Aku tak mau kalah
    Di hadapan hakim, jaksa, dan penuntutku
    Dihadapan wakil indonesia yang membelaku

    Amarah dan kalut merajaiku
    Kenapa harus begini, ya ... Rabb?
    Belum genapkah nestapa bagiku?

    Hari di saat vonis dijatuhkan
    Terasa berat langkah kakiku
    Teringat anakku
    Tergambar kematian
    Jiwaku serasa telah hilang, aku rapuh

    Lalu bak tersambar petir
    Tubuhku berguncang hebat
    Peluh membanjiri tubuhku
    Ya Rabb, maafkanlah aku
    Aku berlindung kepadamu dari segala ketetapan-Mu
    Jangan biarkan nyawaku tergadai fitnah

    Lalu; Entah kekuatan dari mana
    Tatkala aku berdiri tegak di atas kursi pesakitan
    Membeberkan perkara demi perkara
    Lantang dan kian lantang

    Mulutku terasa kecut
    Tenggorokan kering
    Hanya wajah anak-anak yang terbayang
    Entah hidup atau mati
    Aku harus berjuang hingga akhir

    /2/
    Masih segar dalam ingatan
    Semburat jingga di langit Tulung Agung
    Ba’da sholat maghrib berjama’ah
    Aku, dan kedua putriku
    Saat kuutarakan keinginanku menjadi TKW
    Sekaligus berpamitan

    Kesunyian mencekam, mereka tertunduk diam
    Hanya air mata yang menjadi jawaban
    Tangis pun pecah
    Tanpa suara, sesekali terisak
    Mereka pun berhamburan memelukku
    Tanpa kata

    Biar kalian bisa melanjutkan sekolah
    Biar rumah kita menjadi bagus
    Biar ibu punya cukup modal buat berdagang
    Ibu rela membanting tulang demi kalian
    Ibu mau ke Taiwan, jadi perawat orang jompo

    Kalian baik-baik ya di sini
    Kalian yang rukun
    Kalian anak-anak ibu yang kuat
    Do’akan ibu ya Nak!

    Bait perpisahan yang kuucap kala itu
    Beradu murut bisu badan mematung
    Janda sepertiku ini apalagi yang bisa kuperbuat
    Menitipkan anak kepada familiku
    Lalu mengadu nasib di tanah seberang
    Mencari kehidupan yang lebih baik³

    /3/
    Umurku hampir 35 tahun
    Sudah tak muda lagi untuk menghafal
    Butuh kerja ekstra
    Mempelajari bahasa asing⁴
    Belajar budaya negri Taiwan

    Belajar banyak hal
    Cara merawat orang jompo
    Hari berganti minggu
    Rasanya ingin segera diberangkatkan
    Terbang ke negeri orang

    Tiba harinya aku layak diberangkatkan/5
    Ilmuku sudah mumpuni
    Namun tertunda; aku unfit/6
    Harus diinjeksi
    Menunggu pemulihan seminggu

    Tak ada kerabat yang membesuk
    Tidak jua kedua putriku
    Uang yang kutinggalkan tak seberapa
    Hanya cukup sampai kelak kukirim gaji pertamaku
    Itu pun jika aku segera berangkat


    Gelisah acap kali menyergapku
    Bagaimana jika aku unfit lagi?
    Bagaimana jika akhirnya gagal berangkat?
    Bagaimana pula kubayar hutangku?
    Bagaimana nasib anak-anakku?
    Manusia memang hanya bisa menerka
    Sesungguhnya kepastian itu hanya milikNya

    Kuketuk pintu-Mu lagi ya Rabb
    Seperti malam-malam sebelumnya
    Kali ini lebih panjang
    Kuhadirkan khusyukku lebih dalam

    Izinkan hamba berangkat ya Allah
    Menenjemut mimpi besar
    Mudahkanlah jalan hamba dalam mencari nafkah
    Lindungilah anak-anak hamba
    Berikan ketabahan dan kesabaran
    Aamiin ya Rabb

    Kuikhlaskan segala kehendak-Nya
    Ku peluk malamku
    Hingga pagi menjemputku

    /4/
    Babak baru di hidupku telah dimulai
    Kian jauh dari anak dan sanak
    Namun do’a mereka terasa erat memeluk
    Memupuk semangatku
    Mendekap langkahku tanpa bahasa

    12 Oktober 1998
    Kulangkahkan kakiku di Bandara Taipei
    Bertemu dengan majikanku
    Lalu ; Bahasa apakah ini?/7
    Tak sama dengan yang kupelajari

    Dua hari berlalu
    Tak makan apapun
    Tak jua bekerja
    Aku diam seribu bahasa


    • Diteleponkan agency-ku; oleh majikanku

    Ia (majikan) mengadu
    Begitu pun aku
    Aku tak diberinya makan
    Aku tak bisa bekerja
    Aku tak tahu Ia bilang apa
    Ini bahasa apa?

    Agencykupun datang membesuk
    Diurusinya perihal laporanku
    Lalu dituntun aku; oleh majikanku
    Ini makananmu, ujarnya dalam bahasa Mandarin
    Enam kotak cantik tak tersentuh
    Di meja kerjaku
    Kotak warna-warni berisikan makanan

    Agencyku berpamit
    Setelah menjelaskan runtutan pekerjaanku

    Aku merasa geli
    Melapor tak diberi makan
    Rupanya benar kata orang
    Memang bahasa pemersatu bangsa

    Majikanku sangat baik
    Terutama Akong, kakek jompo yang kurawat
    Tak lama aku bersamanya
    Aku dipindahkan karena akong meninggal

    Kembali menerka; bagaimana aku, selanjutnya?
    Rupanya nasib baik memihak
    Aku pindah ke Taipei
    Meninggalkan bahasa hokkien yang sulit

    Ruang istirahatku
    Ada pengatur suhunya
    Televisinya sebesar tivi pak lurah
    Disediakan kulkas pribadi
    Sangat rapi hanya ada tombol dan handel di tembok

    Kasurnya baru, lebar dan empuk
    Seragamnya menggunakan jas safari layaknya anggota dewan
    Bersepatu vantovel
    Jadwal kerja menempel ditembok
    Sekarang aku seorang suster, suster Ami

    /5/
    Jadwal kerjaku padat dan harus cekatan
    Agar lekas beristirahat
    Kawanku banyak
    TKW asal Indonesia lainnya
    Sebagian juga berasal dari Filipina/8
    Warna kulit kita sama

    Aku betah disini
    Mereka ramah dan baik
    Tapi rinduku pada kampung
    Dan buah hati kian terasa
    Kerinduan itu kulebur dengan kerja keras

    Beruntung ada Indonesia di tivi Taiwan
    Namun Indonesia yang asing bagiku
    Pedalaman yang tidak ada listrik
    Perkampungan kumuh di Ibukota
    Suku pedalaman yang telanjang dalam keseharian

    Pantas ya kalian bekerja disini
    Rumah kalian jelek
    Apa disana kalian juga tidak memakai baju?
    Kenapa kalian datang dengan berambut pendek?
    Apa karena tak mampu membeli shampo?

    Aku tak tahan dengan ocehan mereka
    Indonesiaku subur
    Indonesiaku penuh dengan panorama indah
    Kalau aku miskin dan menjadi babu
    Bukan lantaran Indonesia miskin
    Karena aku butuh modal
    Dan beginilah hidupku agar tak terlilit hutang pada rentenir dikampungku

    Lalu; tayangan berbeda menghiasi layar
    Tentang Indonesiaku
    Gentingnya perang saudara di Poso-Ambon/9
    Suasana sangat mencekam
    Parang-parang panjang
    Tembakan menderu
    Dan wajah bengis memenuhi layar

    Sabetan parang menikam putus kepala bocah
    Dilemparkannya kedalam tong sampah
    Sungguh keji
    Rumah warga dibakar tak terkecuali rumah Allah
    Penjajahan terhadap kaum minoritas Ambon
    Konflik terhadap kaum islam sebangsaku

    Aku menjerit tertahan
    Ketakutan mengendap
    Lambat-lambat kian menohok jantungku
    Bagaimana dengan anakku?
    Amankah mereka disana
    Darah yang mengalir membuyarkan ketabahanku

    Kudapati kabar mereka aman
    Konflik tak meluas
    Kabarpun tak terpampang jelas disana
    Layaknya hembusan
    Tak setiap mata bisa melihat
    Tak setiap kuping bisa mendengar
    Masih ditutup rapat dari masyarakat luas

    Mungkin agar kerusuhan tak menular
    Di Indonesia sepi berita
    Semakin lama kabar di Taiwan mereda
    Lalu berhenti
    Mungkin sudah berdamai

    /6/
    Libur yang kuambil sebulan sekali
    Agar uang yang kukirim bertambah

    Saat pulang nanti
    Kan kuceritakan
    Pertanian disini maju
    Hasilnya melimpah dan beraneka ragam
    Ada bayam ungu, merah
    Begitupun sayur kol
    Nangka disini ajaib, kulitnya berwarna-warni
    Begitupun dengan rasa dan warna isinya

    Perikanannya tak klah maju
    Kolamnya luas-luas
    Airnya jernih, bisa kulihat aneka macam ikan
    Ukurannya ada yang super besar
    Itu yang kutemui
    Saat kudorong kursi roda
    Mengajak ama dan akong jalan-jalan sore

    Jalanan disini lebar, lengang dan bersih
    Pemandangannya indah
    Ketika bertani mereka memakai baju layaknya astronot
    Mengoperasikan traktor berbentuk mobil besar
    Pernah kutemui wanita cantik dibalik baju astronot itu

    Bangsa ini lebih ramah dibanding di negaraku
    Mereka yang makmur berkecukupan tetap ramah menyapa
    Meskipun aku babu dari Indonesia
    Tak segan menawarkan hasil panen mereka
    Digantungkannya dikursi yang kudorong
    Untuk ku cicipi nanti

    /7/
    Aku naik pangkat
    Ditunjuk sebagai suster kepala
    Mengepalai TKW Indonesia dan Filipina
    Namanya Amai, temanku
    Dia berumur 3 tahun lebih tua dibanding sulungku
    Dia memanggilku bunda

    Kesehatanku memburuk
    Aku sering pingsan
    Waktu itu ditemukan aku terkapar dalam lift
    Disamping kursi roda Ama

    Aku diifus
    Obat disini mujarab
    Seketika langsung sehat dan bugar
    Kembali bekerja
    Lalu diinfus lagi pada jam istirahat

    Amai, remaja asal cirebon
    Dia membuatku kerepotan ulah dengan ulahnya
    Hobinya meminum alkohol itu merisaukan
    Membuatnya lalai akan tugasnya
    Lupa waktu dan ceroboh
    Sesekali kelantur jadwal pemberian obat

    Upayaku mendidiknya kandas
    Dan pil pahit harus kutelan mentah-mentah

    Akong Liu Wei meninggal
    Kemungkinan salah kasih obat
    Mana suster Ami, suster kepala penanggung jawab ruang obat
    Dia harus bertanggung jawab, celetuk salah seorang
    Sayup-sayup kudengar kabar

    Satu jam berlalu, suasana menjadi genting
    Pihak keluarga tak terima, mereka menuntutku
    Mencengkeramku ke jalur hukum

    Selang infus inilah saksiku
    Bahwa aku tak memberikan obat itu
    Aku berbaring dengan cairan infus mengalir ke tubuhku
    Menghabiskan waktu istirahat soreku
    Tak tahu menahu
    Terperanjat bingung

    Aku masih tak bergeming
    Bingung
    Apa yang harus kuperbuat
    Dengan kasusku dan sistem peradilan disini

    Waktu menjadi sangat cepat bergulir
    Telepon genggamku tak henti-hentinya berdering
    Menelepon, ditelepon
    Aku berlindung dibalik payung hukum Indondonesia
    Wakil indonesia di Taiwan sangat amanah

    Namanya Amai, dialah dalang dibalik semua ini

    Dia mabuk
    Lalu mencuri kunci obat dariku
    Meminumkan ke akong obat
    Namun tak serta merta aku mengutuknya
    Tak lantas pula aku melempar kesalahan padanya
    Aku tak tega

    Mencari solusi
    Kian tegas wajah-wajah anakku dipelupuk mataku
    Aku akan lolos demi mereka
    Aku menangis menciumi sepucuk surat
    Surat manis dari anakku yang baru kuterima
    Datang bak perisai do’a terindah untukku

    Ibunda
    Sembah sungkem kami haturkan
    Kami berdua telah lulus ujian dengan baik
    Nilai kami memuaskan
    Aku diterima di SMK unggulan, sulungku mengisahkan

    Kami merindukanmu ibunda
    Kami selalu mendo’akan ibunda
    Agar ibunda sehat, kuat dan selamat
    Semoga Allah melindungi ibundaku
    Lebih dari perlindungan siapapun
    Kami menunggu kepulangan ibunda
    Semoga ibunda bisa lekas pulang, amiin

    Persidangan demi persidangan ku lalui
    Hujatan dan makian tak terelakkan
    Pembunuh, begitu pilu ku dengar
    Aku tumbang
    Terkapar kembali dengan selang infus

    Konselor kedubes Indonesia selalu disampingku
    Mendukungku
    Membimbing banyak do’a mujarab
    Yang mampu menenangkan hati
    Pergulatan batin telah kumenangkan
    Aku kembali bangkit

    Kali ini aku lebih garang dari sebelumnya
    Kupanjat kursi, lalu berdiri di atasnya
    Pandangan mataku menantang siapapun
    Memandang tajam hakim dan jaksa
    Aku lantang berbahasa mandarin

    Aku suster Ami, sedang dalam waktu istirahat sore
    Aku sama sekali tidak menyentuh akong
    Apalagi meracuninya dengan obat
    Aku bukan pembunuh, semua ini fitnah

    Bukankah akong pulang berlibur dengan keluarganya
    Keluar panti bersama anak dan cucunya
    Lalu apa saja yang dia makan
    Kenapa membuatnya keracunan dan meninggal

    Mereka saling pandang satu sama lain
    Ada yang mengangguk dan membenarkan ungkapanku
    Aku tak bergeming, tetap berdiri tegak
    Meski peluh membanjiri dan tulang serasa akan rontok

    Keadaan berbalik
    Saat anak akong mengaku
    Memberikan makanan yang tidak seharusnya diberikan
    Karena Akong merengek
    Mereka mencabut tuntutan terhadapku

    Kini aku kembali memeluk buah hatiku
    Perisai do’a terindah yang mereka kirimkan
    Mampu mengirimku pulang pada mereka
    Kulanjutkan hidup yang sempat tergadai fitnah
    Sambil terus mengucap syukur
    Terima kasih atas bantuanmu wahai wakil Iindonesia di Taiwan



    ¹Calo yang meresahkan para TKI dan TKW dengan berbagai tipu daya mengambil untung dari hasil kerja para pahlawan devisa.
    Praktik Calo TKI di Bandara Soetta Diduga Libatkan Petugas http://kabar-banten.com/news/detail/14482 dan Cerita Calo Pemulangan TKI di Bandara Soekarno Hatta
    http://m.detik.com/news/read/2013/01/27/190027/2153451/10/cerita-calo-pemulangan-tki-di-bandara-cengkareng

    ²Pelindungan terhadap TKI yang berada di Taiwan lebih baik dibanding dengan yang berada di Saudi Arabia ataupun di Malaysia. http://kdei-taipei.org/id/index-php?option=com-content&view=artickle&id=365:pelayanan-perlindungan-tki-yang-dilakukan-kdei-taipei&catid=34:berita&itemid=55
    http://www.antaranews.com/print/256451/indonesia-taiwan-sepakati-perbaikan-perlindungan-tki

    ³Iming-iming gaji yang besar sehingga dalam waktu singkat sudah bisa mengumpulkan banyak uang
    http://kommedia.blogspot.com/2012/10/gaji-tki-/terbaru.html?m=1

    ⁴Yang dilakukan selama dalam penampungan adalah membekali diri untuk bisa bekerja di luar negri. http://www.infobizdanbmi.com/2012/01/beberapa-hal-selama-di-penampungan.html?m=1

    5 TKI akan diberangkatkan setelah lulus dalam ujian kompetensi dan medical check up. http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/446-finger-print-untuk-uji-kompetensi-calon-tki-html dan http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/4300-jumhur-kesehatan-tki-syarat-utama-berangkat-ke-luar-negri.html

    6Dinyatakan unfit, bisa dikarenakan calon TKI menderita cacingan. Di beberapa negara apabila TKI menderita cacingan, akan dipulangkan ke negara asalnya. http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/4300-jumhur-kesehatan-tki-syarat-utama-berangkat-ke-luar-negri.html dan http://kdei-taipei.org/artikel/imigrasi/modul1.html

    7Bahasa nasional Taiwan adalah mandarin sedangkan bahasa traditionalnya adalah bahasa Hokkien. http://groups.yahoo.com/group/budaya-tionghua/files/kumpulan%20artikel/budaya%20sastra/bahasa http://d.wikipedia.org/wiki/bahasa-taiwan http://id.wikipedia.org/wiki/bahasa-hokkien

    8Selain tenaga kerja asal Indonesia, Taiwan juga menyerap tenaga kerja dari beberapa negara berkembang lainnya, seperti Filipina. Namun persentase terbanyak adalah dari Indonesia. http://m.republika.co.id/berita/international/global/11/04/28/ikcirs-taiwan-paling-banyak-tampung-tki

    9Perang saudara ke-2, yang terjadi di Poso, serangan berlangsung lama dan menewaskan beberapa jiwa umat islam di Ambon. www.andriandw.com/peristiwa.ambon.html

    BIODATA RINGKAS
    Nama : Sukma Meganingrum
    Alamat email :  sukmameganingrum@gmail.com
    Akun Facebook : Sukma Meganingrum
    Akun Twitter : @sukmanyamega
    Akun Instagram : @sukmanyamega

    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com