BLANTERORBITv102

    Perempuan Tak Selalu Cengeng (Review)

    Rabu, 14 Maret 2018

    Tentang buku
    Judul : Aku Bukan Perempuan Cengeng
    Penulis : Ifa Aviyanti, Aisyah Nurcholis, dkk
    Penerbit : Indiva
    Terbit : 2017
    Tebal : 184 halaman 



     Meski judul Aku Bukan Perempuan Cengeng terkesan melankolis, buku ini bukan tearjerker semata. Pernyataan anti cengeng mengimplikasikan ketegaran dan kepercayaan diri sebagai seorang perempuan. Air mata boleh jatuh, namun kejatuhannya harus berlandas pada ketegaran, bukan kelemahan.
    __________________________________________

     Buku ini merupakan girl talk series pertama dari penerbit Indiva. Berupa antalogi cerita yang terdiri dari 13 naskah yang diperoleh dari Sayembara Jangan Jadi Cewek Cengeng. Dibagi menjadi  empat bagian yaitu : Menangislah, Ikhlaslah, Kamu itu Tegar dan Bergeraklah ke Depan. 

     Pada bagian Menangislah, diawali dengan cerita berjudul Menangislah Tanpa (Ber)henti karya Aisyah Nurcholis. Disini penulis menceritakan pentingnya menangis, bahwa menangis itu bukan lambang kelemahan. Asalkan meski menangis tetapi tidak berhenti bergerak. Yang disebut cengeng disini, ketika menangis dan berhenti, tidak berbuat apapun dan hanya meratapi kesedihannya.

     "Terlalu banyak kadar zat mangan (Mn) dapat menyebabkan hal-hal buruk seperti : kecemasan, kegelisahan, lekas marah, kelelahan, agresi, gangguan emosional, dan seluruh perasaan negatif lainnya. Menangis menurunkan kadar mangan seseorang. Air mata yang keluar ketika sedih mengandung konsentrasi protein 24% lebih tinggi dan dapat mengangkut molekul mangan yang beracun." (Halaman 9)
     Selama kita hidup ujian akan selalu ada, menangislah seperlunya lalu kembali berusaha. Kitapun bisa belajar dari para Srikandi pendidik kaumnya yang tak surut langkah meskipun terjal tetap fokus pada tujuan. Bagian pertama ini ditutup dengan wejangan penulis Dyah Laksmi N. Kutipannya sebagai berikut :

     "Janganlah lupa selalu bersyukur atas rahmat dan pertolongan Tuhan sekecil apapun." (Halaman 42)

    Bagian kedua, Ikhlaskanlah.

      "Q.S. Al Isra' ayat 109 menyampaikan berikut, 'Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (Halaman 46)
     Dalam hal ini, menangis justru menambah keyakinan dan khusyuk terhadap Sang Pencipta, tetapi menangis tidak diperbolehkan jika hanya untuk terus menerus meratapi kepelikan hidup. Menangis bukanlah perlambang kecengengan semata.

    Dua kisah di bagian kedua ini, berisikan tentang bagaimana seseorang menggali keikhlasan. Ada yang memperolehnya dengan bersabar ada pula yang berjuang memaafkan si pembuat masalah. Menganggap bahwa orang tersebut hadir sebagai ujian bagi diri kita. Agar kita jadi seseorang yang lebih baik. Tentu mereka menghindari sikap menye-menye dan cengeng.

    Bagian ketiga, Kamu Itu Tegar.

    Disini saya sempat menitikkan air mata, di cerita yang berjudul I Have No Problem, karya Yusi Yusuf, padahal disini ceritanya Gia benar-benar tegar dan tidak mengeluh sama sekali.

     "Gue kanker!" Ruangan itu seperti runtuh. "Rizal? Dia nggak pernah nembak gue,dia nggak pernah peduli sama perasaan gue! Kalo putus cinta ga bakal bikin lo mati, kanker bisa! Tapi apa nangis bikin gue sembuh?" (Halaman 92)
    "Jadi cewek jangan cengeng!" Desis Gia. Gadis itu lalu melangkah keluar, sempat menatap Rizal lalu pergi." (Halaman 93)
    "Gia melepaskan pelukannya, dia tertawa diantara tangisnya. "Iya, Mbak. Aku akan jadi berlian!" (Halaman 94)
    Dua cerita yang lain, menggambarkan bagaimana seseorang memilih tegar ketimbang mengalah pada keadaan. Karena menangis dan mengeluh bukanlah jalan keluar. Itu justru jalan buntu.

    Bagian keempat, Bergerak Ke Depan....

     Jangan patah arang, masih banyak yang lebih haru biru perjalanan hidupnya. Bagian keempat ini merupakan ending dari buku Aku Bukan Perempuan Cengeng. Ada lima cerita berjejer, cerita pertama berisi tentang sepuluh tips dalam menghadapi masalah. Mereka memilih untuk terus maju, menatap hari esok, terus bergerak ke depan.

     Dilanjutkan dengan dua cerita tentang kehidupan kakak beradik dalam keluarga. Yang satu tentang kakak yang akhirnya menjadi sang motivator bagi sang adik. Dan cerita kedua, tentang kepesimisan dan merasa dianak-tirikan, namun akhirnya berhasil memperbaiki tahap emosionalnya, saya baca ini seolah berobat jalan. Dimana kecemburuan dan dendam itu selalu disulut oleh setan. Seperti sepuluh tips yang ada pada cerita sebelumnya. Ada keadaan yang membuat kakak beradik ini saling dukung satu sama lain. Dan si adik yang pada akhirnya memilih untuk bahagia dalam Ridha-Nya.
     "Aku tak mau lagi menganggap diri sebagai Si Bawang Putih yang pada akhirnya bahagia, namun bahagia diatas penderitaan ibu dan saudaranya." (Halaman 156)
     Ketegaran selanjutnya dari cerita yang dibawakan oleh Afin Yulia. Mengenai kehidupan seseorang ketika berkecimpung sebagai seorang penulis. Bahwa ketegarannya membuahkan karya, kesabarannya meniti tangga digambarkan dengan gamblang. Membuktikan bahwa setiap pekerjaan selalu ada konsekuensi. Namun ketika pekerjaan yang dipilih sesuai dengan passion, selalu ada jalan keluar dan lebih ada dorongan untuk menyelesaikan setiap hambatan yang ada. Terus maju dan maju.

     Dan diakhiri dengan perjuangan seorang istri yang mendapat ujian berupa suami yang kurang bertanggung jawab dalam financial, dan lebih menjengkelkannya adalah dengan perselingkuhan. Cerita ini, menambah daftar masalah peliknya perempuan. Dan memang benar jadi perempuan itu tak perlu cengeng. Karena selalu ada Allah yang menjadi tempat berlindung dari segala kerumitan dan duka lara.

     Oke guys, sudah siap kan ya menjadi "Perempuan Anti Cengeng"? Kalau masih gamang, baca sendiri deh buku girl talk diatas. Semoga kecengengannya bisa kocar-kacir ya guys. Sampai bertemu di lain kesempatan. Sekian dan bye...I hope see you soon.

    #HijrahParenting #CeritaHijrah14 #30CeritaHijrah #AkuBukanPerempuanCengeng #Menyemenye #Cengeng #Fight #Menang #Kekuatankata #Akucintabuku2 

    Author

    Sukma (lantanaungu.com)

    Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email: sukmameganingrum@gmail.com