Merawat Fitrah Seksualitas Pada Anak Perempuan

Merawat fitrah seksualitas


لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ وَقَالَ « أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ » . قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فُلاَنًا ، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

“Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang bergaya seperti wanita dan wanita yang bergaya seperti pria.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.”

Ibnu ‘Abbas katakan, “Nabi pernah mengeluarkan orang yang seperti itu. Demikian halnya dengan ‘Umar.” (HR. Bukhari, no. 5886) Sumber https://rumaysho.com/12906-waria-dan-priawan-gender-ketiga.html



Bukan tanpa alasan saya memilih judul di atas, karena kebetulan saya dititipi amanah dua anak perempuan. Jadi bagi saya merawat fitrah seksualitas pada anak perempuan tentunya lebih utama untuk ditimba ilmunya dan juga lebih familiar dengan saya.

Hari pertama saat memasuki zona ketujuh di kelas Bunda Sayang, ternyata tugas kelompok. Hari ini kami bersama tim memilih teman-teman yang akan menjadi koordinator dan perangkat penting lainnya. Selain itu kami mengumpulkan beberapa sumber referensi yang bisa kami gunakan untuk berdiskusi.

Ada tiga link yang di-shared untuk dijadikan bahan diskusi yaitu :

Pada ketiganya ada hal yang menarik untuk digaris bawahi, peran orang tua dalam menumbuhkan fitrah seksualitas ini dimulai dari anak berusia 0 tahun, hingga dia menginjak remaja. Peran orang tua adalah mutlak, tidak bisa disubkontrakkan. Lekat sekali dengan teladan, bukan sekedar banyak cakap, tetapi role model yang tepat akan meminimalisir kemungkinan terjadinya kelainan orientasi seksual.

Usia 0-2 Tahun

Pendidikan ini, dibagi menjadi tiga tahap, disesuaikan dengan usia anak. Pada awalnya baik anak perempuan maupun laki-laki harus didekatkan dengan Ibu. Usia 0-2 tahun, saat ini bayi sangat membutuhkan kehadiran seorang ibu yang memberikan sentuhan kasih sayang dengan menyusuinya. Memanfaatkan tahun ini untuk menjalin kelekatan dengan buah hati.
"Hati-hati jangan terlena dengan kehidupan dalam dunia maya hingga mengesampingkan hal urgent yang tak terulang seumur hidup."
Pada masa ini, Vanya dan Aida sudah diperkenalkan dengan busana khas anak perempuan, biasanya saya memilihkan pakaian berwarna merah muda, memilih busana yang mencerminkan perempuan, yaitu rok. Mainan peran anak perempuan, tak lupa gaun princess ala-ala bisa untuk bermain peran.

Selain itu karena kami muslim maka peralatan tempur berupa kerudung bayi mungil nan mempesona menjadi hal wajib.

Biasanya kami memperkenalkan kerudung pada Vanya dan Aida saat hendak keluar rumah. Alasannya kelak saat dewasa demikianlah syariat yang diwajibkan bagi mereka, selain itu mengenakan kerudung membuat mereka lebih aman dari kemungkinan kedinginan karena hembusan angin. Dari pada kami memilihkan topi dan syal, lebih simple jika kami menggantinya dengan kerudung.

Usia 3-6 Tahun

Pada usia ini anak-anak disebut dalam peneguhan gender ... mereka harus seimbang didekatkan dengan kedua orang tuanya. Masa ini anak akan memperhatikan tentang bagaimana sih menjadi perempuan itu? Bagaimana sih menjadi laki-laki?

Lalu bagaimana menjalin kedekatan antara ibu, dan ayah secara bersamaan jika ternyata kondisinya adalah long distance marriage (LDM)? Qadarullah saat usia itu kedua anak saya mengalami hal yang sama. Allah Maha Adil ya ... jadi keduanya merasakan survive yang sama pada saat mereka membutuhkan kedekatan itu. Semoga terjauh dari fatherless daughter syndrome. Aamiin ....

Penyimpngan orientasi seks bisa disebabkan karena hal ini. Kehilangan sosok ayah yang mencintai, menyanyangi sepenuh hati, berkorban jiwa raga demi kehidupan, dan kebahagiaan putri-putrinya. Membuat seorang anak bertumbuh dengan rasa percaya diri yang kurang. Ia tak mengerti bagaimana mencintai lawan jenis. Sebab, seharusnya cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya.

Kenyamanan yang ayahnya berikan akan membuatnya terkenang, dan kelak ia akan bisa memilih pasangan hidup yang akan membuatnya merasa aman dan nyaman seperti saat berada di dekat ayahnya.

Alhamdulillah abi Vanya dan Aida mengerti akan perannya, cinta untuk putri-putrinya seluas samudera,  setinggi langit di angkasa. Jarak bukanlah penghalang untuk membuktikan cinta, dan kasih sayangnya. Anakku tumbuh dengan berlipahan cinta dari ayahnya. MasyaAllah tabarakallah.

Rutinitas salat sudah mulai diperkenalkan semenjak dini, mereka mengetahui dengan pasti bahwa perempuan harus menutup auratnya dengan menggenakan mukena. Tidak boleh mengenakan sarung dan peci saja.

Kebetulan di sini, salat berjamaah sudah boleh dikerjakan, Mbah Kakung Vanya dan Aida selalu salat berjamaah di Masjid. Sedangkan kami setiap hari hanya salat subuh saja yang berjamaah di masjid. Anak-anak menyukainya, meskipun langkah menuju masjid sejauh kurang lebih 80 meter dan menanjak. Mereka selalu antusias ketika dibangunkan untuk salat subuh berjamaah.

Di sini poin yang bisa diajarkan adalah ... mereka belajar mengenai syariat bahwa shaf antara perempuan dan laki-laki dipisah. Kami berada di bagian tingkat, beberapa ibu berusia paruh baya hingga lanjut shalt di lantai bawah, di tempat yang dipisah dengan pembatas dengan shaf laki-laki. Hal ini merupakan pondasi untuk menanamkan fitrah seksualitasnya.

"Berharap agar kelak mereka mengerti bahwa antara perempuan, dan laki-laki tidak diizinkan untuk berbaur."

Usia 7-10 tahun

Usia ini anak-anakku harus dimatangkan pemahaman bahwa dirinya adalah perempuan. Dalam Islam perempuan dimuliakan derajatnya. Pemahaman tentang kewajiban salat, dan menjadikan salat bukan sekadar habbit, melainkan kebutuhan sebagai wujud dari keimanannya.

Menyiapkan anak memasuki gerbang balig tidaklah mudah. Membuat anak jatuh cinta dengan penciptanya, hingga ia merasa butuh untuk beribadah adalah hal yang menurut sya njelimet. Dalam usia ini anak perempuan harus mulai didekatkan dengan ibu, agar dia mengerti bagaimana perempuan seharusnya.

Sampai di sini menghela napas dulu ya ... auto muhasabah ... sudahkah saya layak menjadi role model seorang muslimah?

Beban ya ... begitulah dunya, penuh dengan fitnah.

Pada usia ini, anak perempuan didekatkan dengan ibu, sebab apa yang kelak dia rasakan hanya seorang ibu yang pernah melaluinya. Jadi seorang ibu akan lebih mudah menjelaskan mengenai bagaimana remaja putrinya menginjak balig? Bagaimana remaja putrinya belajar tata cara fikihnya? Begitu juga dengan curhatan anak mengenai perubahan fisiknya, akan lebih nyambung jika sesama gender yang menjelaskan.


Bermain peran, mengisahkan tentang sahabiyyah juga akan membuat anak semakin paham akan dirinya.

Terus belajar, dan belajar ya Bunda, jika ternyata kita terlambat melakukan sesuai fase maka jujurlah pada anak, meminta maaf kepada anak. Bersama-sama memperbaiki keadaan dan temukan solusi dengan berdiskusi dengan ahlinya ya Bunda. Jangan upa untuk selalu berdoa agar dimudahkan menjalani setiap fase tumbuh kembang Ananda.
















Sukma (lantanaungu.com)
Lantana Ungu adalah seorang Ibu dengan dua orang putri, menyukai dunia literasi dan berkebun. Memiliki 11 karya antologi dan sedang ikut serta dalam beberapa proyek buku antologi. Sangat tertarik dengan dunia parenting, terutama parenting Islami. Email Kerja Sama: sukmameganingrum@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar